2 Pelajar di Kendari Terekam CCTV Tabrakan saat Lari, 1 Patah Tulang hingga Jalani Operasi

Kendari – Dua orang pelajar terekam CCTV terlibat tabrakan saat lari di lingkungan Yayasan Ummusshabri Kendari, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari.
Dalam rekaman CCTV yang diterima Kendariinfo, sejumlah pelajar berseragam merah-putih tampak berlarian di area lapangan sekolah itu. Tiba-tiba, ada dua pelajar yang saling bertabrakan hingga menyebabkan salah satu di antaranya jatuh di tengah lapangan.
Informasi yang dihimpun, kedua pelajar itu adalah inisial K (kelas VI D-CIBI) dan R (kelas VI C-CIBI). Dalam insiden tabrakan tersebut, lengan K patah. Sehingga siswi 11 tahun itu harus menjalani operasi patah tulang.
Orang tua korban bernama Sukriadin (42), mengaku tak terima dengan insiden yang menimpa anaknya di lingkungan sekolah, Selasa (20/8/2024) lalu. Olehnya itu, ia mengadukan kasus tersebut ke Polsek Baruga dan meminta pertanggungjawaban dari pihak sekolah.
Karena aduan itu, lanjut Sukriadin, ia dipanggil oleh pihak kepolisian di Polsek Baruga. Rencananya, mereka akan dipertemukan dengan pihak Yayasan Ummusshabri Kendari, dan orang tua R pada Kamis (29/8).
“Namun tidak dihadiri oleh kedua orang tua R dengan alasan sibuk. Makanya mediasi pertama gagal dilakukan,” katanya, Senin (9/9).
Pada Jumat (30/8), pihak sekolah berencana akan melakukan mediasi kepada kedua belah pihak. Tetapi, kata Sukriadin, orang tua R lagi-lagi tidak bisa hadir dan diwakili oleh orang lain.
“Alasannya, ayah R akan ke Jakarta dan ibu R akan ke Pondidaha. Mediasi kedua batal lagi, bertepatan juga kondisi kesehatan anak saya memburuk,” bebernya.
Selanjutnya pada Kamis (5/9), mediasi ketiga kembali dilakukan di Polsek Baruga. Saat itu, orang tua R kembali mangkir dan diwakili oleh keluarganya yang lain.
“Mediasi kekeluargaan tidak bisa diwakilkan, makanya kami juga tidak mau hadir,” tambah Sukriadin.
Hingga tahap mediasi ketiga ini, lanjut Sukriadin, ia mengaku kesal dengan sikap orang tua R yang tidak mau menemui mereka. Padahal, ia telah berupaya membuka ruang kekeluargaan dan menyelesaikan kasus itu secara baik-baik.
“Insiden ini sengaja atau tidak sengaja, harusnya ada iktikad baik orang tua R untuk respons dan tanggung jawab. Sampai detik ini kami belum pernah melihat wujud R dan orang tuanya,” ucapnya.
Karena tidak adanya titik temu, Sukriadin berharap agar pihak sekolah dan kepolisian bisa mengambil langkah tegas dalam kejadian tersebut.
Hingga kini, media ini sedang menunggu konfirmasi dari orang tua R, pihak sekolah, dan polisi yang menangani kasus itu.





