3 Program Pemkot Kendari untuk Intervensi Stunting 2025

Kendari – Pemerintah Kota Kendari terus memperkuat langkah nyata dalam menekan angka stunting melalui tiga program unggulan yang saling terintegrasi, yaitu Gemarikan, Kampung Keluarga Berkualitas, dan Genting.
Ketiganya menjadi bagian dari strategi besar intervensi stunting tahun 2025 dengan pendekatan gizi, edukasi keluarga, dan pemberdayaan masyarakat.
- Gemarikan: Gizi Sehat dari Laut untuk Anak Kendari

Program Gemarikan (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan) yang dijalankan Dinas Perikanan Kota Kendari menjadi ujung tombak intervensi gizi berbasis pangan lokal. Melalui program ini, masyarakat diajak menjadikan ikan sebagai sumber protein utama dalam menu keluarga.
Kepala Dinas Perikanan Kota Kendari, Agus Salim, menjelaskan bahwa Gemarikan bertujuan mengubah pola pikir masyarakat bahwa ikan bukan sekadar lauk harian, tetapi sumber gizi penting bagi pertumbuhan anak.
“Ikan kaya protein, asam amino, dan omega 3 yang sangat baik untuk perkembangan otak. Kami ingin masyarakat menjadikan konsumsi ikan sebagai kebiasaan keluarga, bukan sekadar pilihan,” ujarnya.
Melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan pengolahan ikan, keluarga berisiko stunting diberi edukasi cara membuat olahan sehat seperti nugget, bakso, dan kerupuk ikan. Selain memenuhi kebutuhan gizi anak, kegiatan ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.

Dinas Perikanan bahkan menyalurkan bantuan pangan bergizi berbasis ikan kepada sekitar 300 keluarga prioritas penerima manfaat. Langkah ini menjadi wujud nyata dukungan terhadap target nasional percepatan penurunan stunting.
- Kampung Keluarga Berkualitas: Pendekatan Komprehensif Berbasis Data
Sementara itu, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Kendari memperkuat intervensi di tingkat akar rumput melalui program Kampung Keluarga Berkualitas. Program ini menjadikan setiap kelurahan sebagai pusat koordinasi lintas sektor yang mengintegrasikan aspek pendidikan, kesehatan, sosial, dan kependudukan.

Kepala DP2KB Kota Kendari, Jahudding, menyebut bahwa seluruh kelurahan kini memiliki kampung keluarga berkualitas yang aktif menjalankan kegiatan berbasis data.
“Setiap kampung punya data anak berisiko stunting, ibu hamil yang butuh pemantauan gizi, dan keluarga rawan pangan. Dari situ, intervensi bisa disusun secara tepat,” jelasnya.
Dari forum kampung inilah berbagai inovasi muncul. Salah satunya Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat), yang mengajarkan ibu rumah tangga mengolah bahan pangan lokal menjadi menu bergizi dengan biaya terjangkau. Program ini menjadi ruang belajar bersama bagi warga agar mampu menjaga gizi keluarga secara mandiri.
- Genting: Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting
Program ketiga, Genting (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting), menjadi simbol gotong royong masyarakat Kendari dalam melawan stunting. Program ini menyasar 1.018 keluarga berisiko stunting dan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat umum.
Kepala DP2KB, Jahudding, menjelaskan bahwa Genting tidak hanya memberi bantuan gizi, tetapi juga menggerakkan kepedulian sosial. Keluarga yang tergolong mampu didorong menjadi orang tua asuh bagi keluarga rentan, dengan cara mendampingi, memberi edukasi, dan memastikan pemantauan kesehatan anak berjalan baik.
“Genting bukan hanya soal bantuan makanan tambahan, tapi juga perubahan perilaku. Kami ingin membangun budaya saling peduli agar semua anak mendapatkan kesempatan tumbuh sehat,” terangnya.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menegaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, melainkan ancaman bagi masa depan sumber daya manusia.
“Penanganan stunting harus menyentuh semua sisi kehidupan, mulai dari gizi, sanitasi, pendidikan, hingga pola asuh. Karena itu, kolaborasi menjadi kunci,” katanya.





