RPJMD 2025 – 2029 Sultra Targetkan Pembangunan Infrastruktur, Pendidikan hingga Ketahanan Pangan

Kendari – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Tenggara (Sultra) telah menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025 – 2029. Salah satu yang menjadi perhatian adalah perbaikan jalan sepanjang 61 meter setiap tahunnya.
Upaya itu merupakan bagian dari strategi besar untuk mencapai kondisi 95 persen jalan provinsi dalam keadaan baik pada tahun 2030.
Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka (ASR) memaparkan hal tersebut dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RPJMD yang dirangkaikan dengan pemaparan 100 hari kerja dirinya bersama Hugua, Selasa (10/6/2025).
Jelasnya, dari total panjang jalan provinsi yang mencapai 1.076,94 kilometer, baru sekitar 66,57 persen dalam kondisi baik. Oleh karena itu, peningkatan infrastruktur jalan menjadi prioritas utama dalam visi pembangunan ke depan.
“Kami berkomitmen mendorong pembangunan yang adil dan berkelanjutan di semua sektor, agar kualitas hidup masyarakat meningkat dan daya saing daerah bisa terus diperkuat,” jelas ASR.
Tak hanya infrastruktur, RPJMD 2025 – 2029 juga menekankan pembangunan di sektor pendidikan, kesehatan, dan ketahanan pangan berbasis agromaritim. Di bidang pendidikan, pemerintah provinsi akan menggulirkan program beasiswa bagi 1.000 siswa berprestasi dan dari keluarga tidak mampu selama lima tahun mendatang. Program tersebut ditujukan untuk memperluas akses pendidikan serta memperkuat kualitas sumber daya manusia di daerah.
Kemudian untuk sektor kesehatan, perhatian diarahkan pada penguatan layanan dasar, perluasan cakupan jaminan kesehatan, serta penanganan penyakit menular seperti HIV/AIDS, TBC, dan malaria, khususnya di wilayah-wilayah terpencil.
Sementara itu, untuk memperkuat ketahanan pangan, Pemprov Sultra menargetkan pencetakan sawah baru seluas 6.750 hektare. Kebijakan ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan swasembada pangan berbasis potensi agromaritim daerah.
ASR juga menyebut 100 hari pertama masa kepemimpinannya sebagai fase konsolidasi dan peletakan fondasi transformasi pembangunan. Ia mengajak seluruh unsur daerah, baik perangkat pemerintah, tokoh masyarakat, organisasi profesi, maupun lembaga kemasyarakatan untuk bersinergi mendukung pembangunan daerah menuju Sultra yang aman, sejahtera, dan religius.
“Perubahan membutuhkan proses, visi yang terarah, kebijakan yang berkelanjutan, dan kerja sama lintas sektor. Semua itu harus kita bangun bersama,” tegasnya.





