934 Kasus TBC Ditemukan di Kendari dalam Enam Bulan

Kendari – Penyakit menular tuberkulosis (TBC) menjadi ancaman serius bagi warga Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Dalam kurun waktu Januari hingga Juni 2025, sebanyak 934 warga terkonfirmasi mengidap TBC.
Jumlah tersebut diperoleh dari hasil skrining Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari terhadap 3.918 orang. Tingginya temuan kasus menunjukkan deteksi dini masih menjadi pekerjaan rumah utama dalam upaya penanggulangan penyakit yang menyerang saluran pernapasan itu.
“Kalau berdasarkan persentasenya, Kota Kendari ini sebagai fasilitas kesehatan rujukan, dan alhamdulillah kita sudah berhasil capai 88 persen dari target,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kendari, Ellfi, Sabtu (5/7/2025).
Ia menjelaskan gejala awal TBC biasanya ditandai dengan batuk yang berlangsung lebih dari dua pekan, demam, dan kelelahan berkepanjangan. Karena sifatnya yang menular melalui percikan ludah saat batuk, masyarakat diminta untuk tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Layanan TBC di puskesmas dan rumah sakit sudah sepenuhnya gratis. Mulai dari pemeriksaan, pengobatan, hingga pasien dinyatakan sembuh, baik untuk kasus sensitif obat maupun resisten obat,” jelas Ellfi.
Namun, pihaknya mengakui masih menghadapi kendala dalam pelacakan jika pasien pertama kali berobat ke fasilitas kesehatan swasta, seperti klinik atau praktik mandiri. Padahal, pelacakan kontak erat dan lingkungan menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan.
“Setelah pasien positif, kita langsung lacak siapa saja kontak serumah atau kontak eratnya. Selanjutnya dilakukan skrining dan analisis faktor risiko lingkungan,” tambahnya.
Ellfi menyebut ada tiga hal utama dalam memutus penyebaran TBC di Kendari. Pertama, pasien harus patuh menjalani pengobatan hingga tuntas. Kedua, mereka yang pernah kontak dengan penderita perlu bersedia ikut skrining. Ketiga, pentingnya memperhatikan sanitasi dan kondisi lingkungan tempat tinggal pasien.
Dinkes Kota Kendari mengajak masyarakat untuk tidak menyepelekan gejala-gejala TBC. Pemeriksaan sejak dini dan kepatuhan menjalani terapi dinilai sebagai langkah efektif untuk menekan penyebaran penyakit yang telah lama menjadi masalah kesehatan nasional ini.





