Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Sultra Peringkat 3 Nasional Provinsi dengan Aksi Demonstrasi Tersering di Indonesia

Sultra Peringkat 3 Nasional Provinsi dengan Aksi Demonstrasi Tersering di Indonesia
Press Release Akhir Tahun 2025 Polda Sultra yang dipimpin langsung oleh Kapolda Sultra, Irjen Pol Didik Agung Widjanarko. Foto: Kendariinfo (31/12/2025).

Kendari – Sebanyak 1.015 aksi demonstrasi terjadi di Sulawesi Tenggara (Sultra) sepanjang tahun 2025, menjadikan provinsi ini urutan ketiga nasional sebagai daerah dengan aksi demonstrasi tersering di Indonesia setelah Jakarta dan Makassar.

Data itu diungkapkan langsung oleh Kapolda Sultra, Irjen Pol Didik Agung Widjanarko pada press rilis akhir tahun, Rabu (31/12/2025). Ia mengungkapkan, isu sosial budaya (sosbud) menjadi pemantik utama gerakan massa di Sultra.

“Dari total 1.015 aksi unjuk rasa, 476 unjuk rasa berkaitan erat dengan persoalan sosial dan kemasyarakatan,” ungkap Didik.

Menyusul di posisi kedua, persoalan ekonomi memicu sebanyak 309 aksi, sementara isu keamanan tercatat sebanyak 203 aksi. Adapun isu politik menempati urutan terakhir dengan frekuensi terendah, yakni sebanyak 27 aksi sepanjang 2025.

Data kepolisian mengidentifikasi isu korupsi dan pungutan liar (pungli) paling sering disuarakan oleh para demonstran. Kemudian, kinerja pemerintah daerah, hingga penegakan hukum.

Selain itu, konflik agraria atau sengketa antara pihak perusahaan dengan masyarakat lokal juga menjadi pemicu yang kerap membawa massa ke jalan. Persoalan sosial lainnya turut melengkapi daftar panjang alasan di balik tingginya angka demonstrasi di Sultra.

Dilihat dari persebaran wilayahnya, Kota Kendari sebagai pusat pemerintahan provinsi masih menjadi titik panas aktivitas unjuk rasa dengan total 490 aksi. Disusul Kabupaten Kolaka 126 aksi, dan Kota Baubau 93 aksi.

Baca Juga:  Intip Pesona Pulau Senja di Konsel

Didik menegaskan, upaya merespons aspirasi masyarakat secara tepat dan terbuka menjadi hal penting agar meminimalisir terjadinya konflik sosial.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten