Raja Konawe Ultimatum Keras PT SCM, Tepati Janji ke Warga Routa atau Angkat Kaki

Konawe – Mokole atau Raja Konawe ke-34, Lukman Abunawas melontarkan ultimatum keras kepada PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM). Ia menegaskan perusahaan harus menepati janji kepada masyarakat adat di Kecamatan Routa atau angkat kaki dari wilayah tersebut.
Pernyataan itu disampaikan saat menghadiri Konsolidasi Kelembagaan Masyarakat Adat Tolaki (MAT) di Kelurahan Routa, Kecamatan Routa, Konawe, Sabtu (28/3/2026). Di hadapan warga, Lukman menyoroti komitmen perusahaan yang dinilai belum terealisasi sejak awal aktivitas pertambangan berjalan.
Ia mengingatkan, janji perusahaan telah tertuang dalam dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) saat dirinya masih menjabat kepala daerah. Janji itu meliputi pembangunan smelter, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pelibatan kontraktor lokal hingga program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).
“Saya masih ingat janji PT SCM, membangun smelter, menyejahterakan masyarakat, CSR, melibatkan kontraktor lokal,” tegas Lukman.
Lukman juga menyinggung lahan masyarakat adat sekitar 3.562 hektare yang mencakup Danau Tapparan Teo sebagai milik masyarakat adat. Selain itu, sekitar 21 ribu hektare IUP PT SCM disebut berada di kawasan pengolahan damar dan perkebunan kopi masyarakat.
Ia menegaskan tidak ada pihak yang boleh merampas tanah tanpa persetujuan yang jelas dari pemiliknya. “Kalau kalian tidak ingat telah saya beri izin, Allah Swt. nanti akan memberikan balasannya,” ujarnya.
Ia meminta seluruh aktivitas perusahaan tetap menghormati hak masyarakat lokal. Bahkan, ia siap melawan jika ada pihak yang menekan warga. “Kalau ada yang mau merampas tanah, sampaikan Lukman Abunawas melarang, tidak boleh,” tegasnya.
Menurutnya, persoalan ini juga telah disampaikan ke pemerintah pusat, termasuk presiden dan DPR RI. Ia berharap ada perhatian serius terhadap konflik di wilayah tersebut. Lukman kembali menegaskan ultimatum kepada PT SCM agar segera membuktikan komitmennya, bukan sekadar janji.
“Kalau tidak bisa menepati janji, silakan ke Morowali saja, jangan di sini,” tutupnya.





