Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Mengenal Sesar Lawanopo di Sultra yang Punya Potensi Gempa Hingga Magnitudo 7,6

Mengenal Sesar Lawanopo di Sultra yang Punya Potensi Gempa Hingga Magnitudo 7,6
Fungsional PMG Ahli Madya Stasiun Geofisika Kendari, Imanuela Indah Pertiwi. Foto: Istimewa.

Kendari – Sesar Lawanopo di Sulawesi Tenggara (Sultra) menjadi salah satu sumber potensi gempa dengan kekuatan hingga Magnitudo (M) 7,6 yang dapat menimbulkan dampak guncangan di sejumlah wilayah Sultra, sehingga perlu dikenali karakteristik serta risiko yang ditimbulkannya.

Sesar yang berada di daratan ini membentang cukup panjang dan melintasi beberapa kabupaten di Sultra. Keberadaannya dinilai penting untuk dipahami masyarakat karena aktivitasnya dapat memicu gempa yang dirasakan hingga wilayah sekitar, termasuk Kota Kendari.

Fungsional Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Ahli Madya Stasiun Geofisika Kendari, Imanuela Indah Pertiwi, menjelaskan Lawanopo merupakan salah satu sesar terpanjang di wilayah Sultra dengan panjang sekitar 130 kilometer. Jalurnya memanjang dari barat laut ke tenggara, melintasi Kecamatan Batu Putih dan Pakue Utara di Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), kemudian melewati Kecamatan Latoma, Routa, dan Amonggedo di Kabupaten Konawe, hingga Kecamatan Asera, Andowia, Molawe, Lasolo, dan Wawolesea di Kabupaten Konawe Utara (Konut).

“Sesar Lawanopo merupakan salah satu sesar terpanjang di Sultra dengan panjang sekitar 130 kilometer dan berada di daratan yang memanjang dari barat laut ke tenggara melewati beberapa wilayah di Kolut, Konawe, dan Konut,” ujar Imanuela, Jumat (10/4/2026).

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), aktivitas sesar tersebut tergolong aktif meskipun kejadian gempa tidak terjadi dalam waktu yang sering. Namun hasil penelitian lanjutan Tim Pusat Studi Gempa Nasional (PusGeN) tahun 2024 menunjukkan sesar ini memiliki potensi gempa maksimum hingga M 7,6.

Baca Juga:  Breaking News! Kendari Diguncang Gempa Magnitudo 4,9

“Berdasarkan hasil penelitian lanjutan PusGeN, Sesar Lawanopo berpotensi menyebabkan gempa hingga M 7,6,” jelasnya.

Jika gempa besar terjadi, guncangan diperkirakan dapat dirasakan di sejumlah wilayah sekitar, termasuk Konawe, Kota Kendari, hingga Koltim. Imanuela mencontohkan gempa magnitudo 4,3 pada 8 Maret 2026 yang guncangannya dirasakan di beberapa daerah tersebut. Selain itu, BMKG juga mencatat sejarah aktivitas sesar ini pada kejadian gempa Soropia tahun 2022.

Setelah gempa M 4,3, BMKG juga mendeteksi rangkaian gempa di lokasi berdekatan dengan guncangan M 2 – 3. Hal tersebut menunjukkan aktivitas sesar yang masih berlangsung.

Dengan potensi gempa maksimum M 7,6, dampak yang ditimbulkan dapat berupa kerusakan sedang hingga berat pada bangunan, terutama di wilayah yang berada di dekat jalur sesar. Meski demikian, karena berada di daratan, potensi tsunaminya relatif kecil.

“Sesar Lawanopo berada di darat sehingga peluang memicu tsunami kecil. Namun jika gempa besar terjadi dan menimbulkan longsoran di dasar laut, kondisi tersebut masih memungkinkan terjadinya tsunami,” lanjutnya.

Sebagai langkah mitigasi, pemerintah daerah diminta memperhatikan penataan bangunan di sekitar jalur sesar serta memastikan konstruksi tahan gempa, khususnya pada fasilitas umum. Selain itu, pemasangan rambu evakuasi dan edukasi masyarakat juga perlu diperkuat, mengingat sebagian jalur sesar berada dekat wilayah pesisir Konut.

“Jika terjadi gempa, masyarakat diminta tidak panik dan mengikuti informasi resmi dari BMKG, atau pemerintah daerah. Bagi warga di wilayah pesisir yang merasakan guncangan kuat dalam waktu lama, segera lakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi,” imbunya.

Baca Juga:  BEI Sultra bersama Sultra Island Care Buat Pojok Baca Pesisir di Laonti Konsel

BMKG juga terus memperkuat sistem monitoring dengan penambahan alat perekam getaran gempa di sekitar jalur sesar. Dengan jaringan tersebut, informasi gempa dapat disampaikan kurang dari tiga menit, termasuk peringatan dini tsunami melalui perangkat Warning Receiver System yang tersedia di kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten/kota.

Imanuela menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir, namun kesiapsiagaan tetap penting karena waktu terjadinya gempa tidak dapat diprediksi.

“Masyarakat tidak perlu khawatir, tetapi harus tetap siap siaga. Jangan mudah percaya pada informasi prediksi gempa, dan pastikan mengikuti informasi resmi dari BMKG,” pungkasnya.

Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten