Tingkat Pengangguran Terbuka di Sultra Naik Jadi 3,47 Persen, Lulusan SMK Tertinggi

Kendari – Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulawesi Tenggara (Sultra) naik menjadi 3,47 persen pada Mei 2026. Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) mencatat TPT tertinggi dibandingkan jenjang pendidikan lainnya, yakni 5,74 persen.
Statistisi Ahli Madya Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra, Muh. Mulyadi, mengatakan TPT Mei 2026 meningkat 0,22 persen poin dibandingkan Februari 2026. Data tersebut merupakan hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Mei 2026 yang dirilis BPS Sultra, Rabu (5/8/2026).
“Jadi TPT Mei 2026 mencapai 3,47 persen angka ini meningkat 0,22 persen poin dibanding TPT Februari 2026, dan meningkat 0,14 persen poin dibandingkan November 2025,” jelasnya.
Angka 3,47 persen berarti sekitar tiga dari setiap 100 orang yang masuk dalam angkatan kerja di Sultra masih menganggur. Kondisi tersebut menunjukkan adanya tenaga kerja yang belum terserap pasar kerja.
Kenaikan TPT tidak terjadi pada seluruh kelompok secara merata. Berdasarkan jenis kelamin, TPT perempuan mencapai 4,31 persen, lebih tinggi dibandingkan laki-laki yang berada pada angka 2,95 persen.
TPT perempuan juga mengalami kenaikan paling besar dibandingkan Februari 2026. Persentasenya bertambah 0,65 persen poin, sedangkan TPT laki-laki justru turun 0,03 persen poin.
Perbedaan juga terlihat berdasarkan wilayah tempat tinggal. TPT perkotaan mencapai 4,62 persen, sedangkan perdesaan berada pada angka 2,58 persen.
Dibandingkan Februari 2026, TPT perkotaan naik 0,81 persen poin. Sebaliknya, TPT perdesaan turun 0,27 persen poin.
Berdasarkan pendidikan, lulusan SMK menjadi kelompok dengan TPT paling tinggi, dan TPT terendah tercatat pada lulusan Diploma I/II/III sebesar 1,23 persen.
Meski TPT lulusan SMK menjadi yang tertinggi, distribusi pengangguran di Sultra paling banyak berasal dari lulusan SMA. Kelompok tersebut menyumbang 37,82 persen dari total pengangguran pada Mei 2026.
Sementara itu, lulusan SMK menyumbang 9,91 persen dari distribusi pengangguran. Lulusan Diploma I/II/III menjadi kelompok dengan distribusi paling rendah, yakni 1,05 persen.





