El Nino Picu Kemarau Panjang, BPBD Baubau Perkuat Kesiapsiagaan

Baubau – Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang dan meningkatkan risiko kekeringan serta kebakaran membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Baubau memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan di sejumlah wilayah.
Kecamatan Bungi, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), menjadi salah satu wilayah yang terdampak cukup signifikan. Pemutakhiran data cuaca menunjukkan wilayah tersebut mengalami hari tanpa hujan selama lebih dari 60 hari.
Plt. Kepala Pelaksana BPBD Baubau, Mohamad Tasdik, menegaskan El Nino bukan sekadar panas biasa. Bencana yang diakibatkan datang secara perlahan sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan lebih dini.
“El Nino bukan bencana yang datang mendadak seperti gempa. Ia datang perlahan, dan justru di situ bahayanya. Orang cenderung menganggapnya sekadar panas biasa sampai sumur mengering dan api sudah menjalar,” ujar Tasdik melalui keterangan resmi, Jumat (28/8/2026).
Selain meningkatkan kebakaran rumah dan lahan, fenomena tersebut menyebabkan terjadi penurunan ketersediaan air bersih, pohon-pohon lebih rentan tumbang, serta terganggunya aliran listrik.
Langkah-langkah kesiapsiagaan yang diambil dalam menghadapi peristiwa tersebut di antaranya disediakannya posko siaga, peta wilayah terdampak kekeringan yang dimutakhirkan, sosialisasi keliling, serta koordinasi lintas instansi.
Karena itu, BPBD Kota Baubau mengaktifkan langkah-langkah kesiapsiagaan dalam menangani potensi bencana, di antaranya melalui posko siaga, pemutakhiran peta wilayah terdampak kekeringan, sosialisasi keliling, serta koordinasi lintas instansi.
Dengan tingginya angka kebakaran yang terjadi di sejumlah daerah di Kota Baubau, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas yang memicu timbulnya api, seperti membuang puntung rokok sembarangan.
Selain di darat, BPBD Baubau juga melakukan koordinasi dengan Pos Search and Rescue (SAR) Baubau dalam mengantisipasi potensi rawan bencana di wilayah laut.
Dengan keterbatasan fasilitas yang ada, peran masyarakat dinilai begitu penting dalam proses penanganan bencana seperti kebakaran. Sebelum pemadam tiba, warga justru lebih cepat bergerak melakukan pemadaman. Kesiapsiagaan tersebut menjadi lapis pertahanan pertama yang diperlukan dalam penanganan.





