Antre BBM di Kendari Seolah Jadi Rutinitas Baru, Kendaraan Mengular hingga Luar SPBU

Kendari – Antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), terus terjadi belakangan ini. Pengendara roda empat menjadi yang paling terdampak karena harus menunggu lama untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM).
Berdasarkan pantauan Kendariinfo, Senin (7/9/2026), pukul 16.29 Wita, antrean kendaraan di SPBU Teratai mengular hingga sekitar 500 meter atau nyaris sampai ke Swiss-Belhotel Kendari.
Kendaraan roda empat yang mengantre merupakan pengendara yang ingin membeli BBM jenis pertalite. Selain kendaraan roda empat, pengendara sepeda motor juga mengalami hal yang sama meskipun tidak mengantre sepanjang itu.
Nurlan, pengendara roda empat yang sempat diwawancarai singkat oleh Kendariinfo, mengatakan dirinya sudah mulai terbiasa dengan kondisi tersebut mengingat hal ini telah terjadi selama berminggu-minggu.
“Sebenarnya capek juga, tapi mau diapa, sudah biasa,” singkatnya.
Ale, pengemudi yang ditemui di tempat yang sama, menduga antrean yang terus terjadi ini akibat peralihan masyarakat yang sebelumnya menggunakan pertamax kembali menggunakan pertalite.
“Kayaknya karena mahal pertamax, akhirnya banyak yang pakai pertalite lagi,” sebut Ale.
Pengamat ekonomi Sultra yang juga akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Syamsir Nur, mengatakan penyesuaian harga pertamax per 10 Juni 2026 dilakukan pemerintah karena dipengaruhi perkembangan harga pasar dan kondisi perekonomian secara umum.
“Penyesuaian harga ini dipicu oleh dua hal, yakni mengikuti mekanisme pasar dan penyesuaian terhadap kondisi perekonomian. Itu menjadi pilihan yang diambil pemerintah,” ujar Syamsir, Kamis (11/6).
Menurutnya, setiap kenaikan harga selalu menghadirkan konsekuensi bagi masyarakat. kata dia, kenaikan harga pertamax dapat mengurangi pendapatan riil karena selisih antara pendapatan yang diterima dengan harga kebutuhan yang harus dibayar makin menyempit.
Akibatnya, kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan akan ikut terpengaruh. Dampak tersebut, kata dia, diperkirakan lebih dirasakan kelompok masyarakat menengah dan masyarakat yang sedang menuju kelas menengah.
Syamsir menjelaskan, kenaikan harga Pertamax berpotensi mendorong sebagian konsumen beralih menggunakan Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi.
“Kalau pengguna pertamax beralih ke pertalite, permintaan terhadap BBM subsidi akan meningkat,” katanya.
Kondisi itu, lanjut dia, menempatkan pemerintah pada posisi yang tidak mudah. Jika kuota BBM bersubsidi ditambah, maka beban subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan meningkat. Namun, apabila kuota tidak ditambah, masyarakat berisiko menghadapi kelangkaan BBM subsidi.





