9 Hektare Sawah di Kendari Tetap Panen meski Kekeringan

Kendari – Seluas 9 hektare sawah di kawasan persawahan Amohalo di Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), berhasil panen meskipun di tengah ancaman kekeringan pada musim tanam kedua 2026. Panen padi dilakukan di lahan seluas 9 hektare pada Senin (28/9/2026).
Kepala Dinas Pertanian Kota Kendari, Imran Ismail, mengatakan persawahan Amohalo memiliki luas panen sekitar 330 hektare. Namun, produksi padi di kawasan itu menghadapi persoalan ketersediaan air. Dari sekitar 320 hektare lahan yang terdampak kekeringan, sebanyak 200 hektare mengalami kekeringan ringan, 40 hektare terdampak sedang, dan 32 hektare mengalami kekeringan berat.
Dinas Pertanian Kota Kendari juga mencatat sekitar 10 hektare lahan mengalami gagal panen akibat kekeringan.
Pemerintah Kota Kendari kemudian mendapat dukungan pengairan dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Sultra. Bantuan itu berupa mobil pompa air yang digunakan selama sekitar satu pekan untuk mengambil air dari Sungai Wanggu.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, mengatakan kekeringan tidak boleh menghentikan pengembangan sektor pertanian di Kota Kendari.
“Ini bukan menjadi penggugur semangat kita untuk tetap bangkit dalam mengupayakan apa yang menjadi potensi, terutama pertanian kita di Kota Kendari,” ujar Siska saat menghadiri panen padi di Amohalo.
Menurut Siska, lahan persawahan di Amohalo menjadi potensi penting karena berada di tengah kawasan perkotaan. Pemerintah Kota Kendari mencatat kawasan itu memiliki sekitar 320 hektare lahan yang dapat dimanfaatkan untuk produksi pangan.
Siska mengatakan produksi lokal perlu diperkuat karena Kendari masih bergantung pada pasokan beras dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Selain persoalan pengairan, Pemkot Kendari menyiapkan akses permodalan bagi kelompok tani. Petani yang membutuhkan modal usaha dapat difasilitasi melalui skema pembiayaan tanpa bunga dan agunan.
Pemkot Kendari juga mendorong petani memanfaatkan fasilitas penggilingan padi yang telah direvitalisasi. Fasilitas tersebut dinilai dapat mengurangi biaya pengangkutan gabah karena proses pengolahan dapat dilakukan di wilayah setempat.
“Kenapa tidak kita manfaatkan penggilingan tersebut karena sudah ada. Kemarin sudah direvitalisasi, sudah diperbaiki. Tahun ini harus bisa,” kata Siska.
Untuk mengatasi kebutuhan air, Pemkot Kendari sebelumnya mengalokasikan biaya tidak terduga untuk pembangunan sumur dan pengadaan mesin pompa di kawasan pertanian.
Siska juga meminta Dinas Pertanian Kota Kendari menyusun perencanaan kebutuhan petani dan kawasan persawahan untuk dimasukkan dalam agenda pembangunan 2027.
Terancam Gagal Panen 32 Hektare, Pemkot Kendari Mulai Lakukan Pengairan Sawah di Amohalo





