Jelang Demo soal Lonjakan Harga BBM, Ini Penjelasan Disperindag Wakatobi

Wakatobi – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Wakatobi menanggapi isu aksi demonstrasi lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Aksi yang dipelopori Aliansi Mahasiswa Masyarakat Peduli Kebutuhan Rakyat (AMMPKR) ini rencananya akan digelar pada Selasa (10/11/2026). Rute dimulai dari Alun-Alun Merdeka menuju Kantor Disperindag dan berhenti di Kepolisian Resor (Polres) Wakatobi.
Berdasarkan isi pamflet yang beredar di media sosial, tuntutan aksi berisi desakan terhadap Disperindag Wakatobi untuk mengendalikan harga BBM, menindak tegas pihak-pihak yang menimbun dan menaikkan harga, serta menjamin ketersediaan minyak dengan harga wajar.
Terkait hal itu, Kepala Disperindag Wakatobi, Safiuddin, mengatakan stok yang diterima dari depot Pertamina Baubau sejak tiga hari yang lalu berjumlah terbatas, yakni hanya 45 kiloliter (kl).
“Kondisi saat ini stok dari depot Pertamina Baubau yang dikirim tiga hari lalu hanya 45 kl dan antrean di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) sudah dibuka tiga hari yang lalu,” ujarnya kepada Kendariinfo, Sabtu (7/11).
Ia memastikan pihaknya bersama kepolisian setempat telah melakukan pengawasan di lapangan. Namun, terdapat dua sisi dilematis.
Ketika ditindaklanjuti, pemerintah daerah justru mendapat keluhan dari para pengecer yang merasa pedagang kecil tidak diperhatikan. Sebaliknya, jika tidak dilakukan penindakan, pemerintah dinilai tidak peduli dengan masyarakat umum.
“Di lapangan terkadang kita berhadapan dua sisi mata uang. Ketika pengecer dihapus dan ditindak, jawabannya pemda tidak peduli dengan masyarakat kecil. Ketika tidak ditindak, jawabannya pemda tidak peduli masyarakat umum,” jelasnya.
Meski demikian, Safiuddin menegaskan pihaknya terus membangun komunikasi dengan Pertamina Baubau serta pemilik SPBU di Kabupaten Wakatobi untuk menghentikan penyaluran ke para pengecer dan hanya melayani masyarakat sesuai peruntukannya.
Ia juga berharap stok berikutnya cepat masuk sehingga persoalan itu dapat segera teratasi. Namun, belum diketahui kapan stok tersebut akan diterima.
“Tapi, kami selaku pengawas membangun komunikasi terus dengan depot Pertamina Baubau dan pemilik SPBU di Wakatobi untuk tidak lagi memberi pengecer BBM dan melakukan pelayanan ke masyarakat,” tegasnya.
Sebelumnya, lonjakan dikeluhkan warga saat BBM jenis pertalite mengalami kenaikan dengan harga bervariasi. Terdapat pengecer yang menjual dari Rp15 ribu per liter menjadi Rp25 ribu, sementara untuk ukuran 1,5 liter naik dari Rp20 menjadi Rp35 ribu hingga Rp50 ribu.





