BMKG Catat 40 Gempa Guncang Wilayah Sultra dalam 2 Hari Terakhir

Sulawesi Tenggara – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat, ada 40 kali gempa guncang wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) sejak 25 Maret – 27 Maret 2022.
Hal ini disampaikan oleh Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Kendari, Joshua Purba. Ia mengatakan, dari 40 gempa yang terjadi hingga Minggu (27/3) pukul 11.00 WITA, hanya ada 4 kali yang betul-betul dirasakan masyarakat.
“Kejadian pertama di tanggal 25 sekitar pukul 21.20 WITA sangat dirasakan masyarakat berkekuatan Magnitudo (M) 4,9, kemudian ada gempa-gempa susulan kecil yang tidak dirasakan,” kata Joshua kepada Kendariinfo melalui sambungan telepon, Minggu (27/3).
Kemudian di tanggal 26 Maret 2022, tercatat ada 26 gempa. Namun yang dirasakan masyarakat hanya 3 kali, yakni sekitar pukul 17.54 WITA, 21.16 WITA, dan 21.55 WITA.
“Untuk hari ini gempa yang dirasakan masyarakat berkekuatan M 3,6 yang terjadi pukul 2 dini hari tadi,” sambungnya.
Joshua mengungkapkan, insiden gempa bumi yang besar terjadi dua hari terakhir ini, disebabkan aktivitas sesar Lawanopo di timur laut Soropia, Kabupaten Konawe.
“Rentetan gempa yang terjadi sejak tanggal 25 Maret 2022 kemarin karena adanya patahan atau aktivitas di sesar Lawanopo yang ada di timur laut Soropia. Gempa-gempa yang besar dirasakan di tiga wilayah, yakni Konawe, Konawe Selatan (Konsel), dan Kendari,” ungkapnya.
Dia membeberkan, jika sering terjadi gempa dengan intensitas kecil justru bagus, karena tidak ada energi guncangan yang terkumpul pada sesar.
“Justru bagus jika sering terjadi gempa-gempa kecil, tidak ada energi yang terkumpul di sesar. Rentetan kejadian gempa bumi yang terjadi di Kota Kendari ini karena sudah lama tidak terjadi gempa bumi, sehingga energi guncangan tertampung, dan begitu lepas guncangannya sangat besar dirasakan,” bebernya.
Dirinya menegaskan, masyarakat tidak perlu panik dan khawatir, sebab gempa-gempa yang terjadi di Kota Kendari tidak berpotensi tsunami.
“Masyarakat jangan panik, sebab gempa yang terjadi tidak berpotensi tsunami. Kami mengimbau agar masyarakat jangan mudah termakan isu atau berita yang belum jelas kebenarannya,” tegasnya.





