Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Education

Mengenal Al-Qur’an Tulis Tangan asal Kabupaten Muna yang Disimpan di Museum Sultra

Mengenal Al-Qur’an Tulis Tangan asal Kabupaten Muna yang Disimpan di Museum Sultra
Al-Qur'an tulis tangan yang diperoleh di Kabupaten Muna. Foto: Istimewa.

Kendari – Museum Budaya Sulawesi Tenggara (Sultra) yang berlokasi di Jalan Abunawas, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Kota Kendari menyimpan berbagai benda peninggalan sejarah, salah satunya adalah kitab suci Al-Qur’an yang ditulis tangan.

Al-Qur’an tulis tangan ini diperoleh dari warga di Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna pada tahun 2000 lalu. Sebelum menjadi bahan koleksi di Museum Sultra, peneliti membawa warga yang menyimpan Al-Qur’an beserta kitab suci tersebut di Laboratorium Museum Nasional untuk dilakukan penelitian lebih dalam.

Dari hasil penelitian, kertas Al-Qur’an tersebut terbuat dari kulit kayu Mahoni. Alat untuk menggoreskan aksara Arab terbuat dari lidi daun enau, sedangkan tinta untuk menulis setiap aksara tersebut dari getah pepohonan dan buah-buahan khusus. Bahkan, gradasi ketebalan warna tulisan juga bervariasi dan tidak merata.

Kurator Museum Sultra, Agung Kurniawan.
Kurator Museum Sultra, Agung Kurniawan. Foto: Istimewa.

“Kalau tulisannya rata dan gradasi ketebalan warnanya sama, maka bisa saja ini dibuat oleh cetakan. Tapi dari hasil penelitian, semua alami dan murni buatan tangan-tangan manusia,” ujar Kurator Museum Sultra, Agung Kurniawan, Sabtu (16/4/2022).

Al-Qur’an tulis tangan ini juga disebut-sebut sebagai salah satu peninggalan sejarah tertua di Sultra yang dibuat pada tahun 1501 atau abad 15 silam. Saat ini, umurnya sudah berusia sekitar 501 tahun.

Konon, di abad 18 atau tahun 1518, Al-Qur’an tersebut dijadikan jimat oleh warga dengan membungkusnya menggunakan daun dan meletakkannya dalam lemari.

Baca Juga:  Pencurian di Museum Sultra, Tamalaki Wonua Ndoolaki Minta Kepala Museum Diganti

Agung menambahkan, adanya Al-Qur’an tersebut menjadi tanda masuknya ajaran agama Islam di Kabupaten Muna yang dibawa Syech Abdul Wahid, pedagang dari Arab Saudi.

“Di Kabupaten Muna sendiri, Raja Muna masih dipimpin oleh Sugimanuru. Belum ada agama Islam dan Sugimanuru pun dinilai masih menganut kepercayaan masyarakat lokal. Namun, Raja Muna ini tak melarang warganya untuk menganut ajaran Islam. Bahkan, putranya sendiri bernama Lakilaponto ikut mempelajari bahkan menyebarkan ajaran Islam itu di berbagai daerah,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Al-Qur’an tulis tangan ini disimpan dalam Ruang Filologi Fitting Lantai dua Museum Sultra dan beralaskan dudukan meja dengan lipatan kayu (rehal). Kondisi aksara arab masih bisa dibaca namun beberapa bagian sisi lainnya telah rusak.

Saat ini, pihak Museum Sultra merawat benda-benda sejarah dalam tempat tersebut dengan cara modern. Mereka menggunakan lima jenis bahan kimia agar barang-barang itu tak rusak dimakan bakteri atau bisa terhindar dari jamur.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten