Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Akademisi Unsultra Ajak Mahasiswa Jadi Pemilih Cerdas dengan Hindari Politik Uang

0
0
Direktur Pascasarjana Hukum Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), LM Bariun. Foto: Istimewa.

Kendari – Akademisi, pengamat politik, sekaligus Direktur Program Pascasarjana Hukum Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), LM Bariun, mengajak masyarakat dan mahasiswa untuk menjadi pemilih cerdas dengan menghindari politik uang (money politic) pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024.

Menurutnya, mahasiswa yang merupakan agen perubahan harus bisa memberi contoh kepada masyarakat terkait proses demokrasi yang baik tanpa adanya iming-iming uang dan sejenisnya.

Money politic ini merusak sistem demokrasi kita dan tentunya ini melanggar peraturan yang telah dibuat,” katanya kepada Kendariinfo, Kamis (1/2/2024).

Melihat fenomena saat ini, Bariun menilai praktik money politic terkesan sudah menjadi budaya setiap kali pesta demokrasi dilaksanakan di negeri ini. Padahal jelas, hal tersebut sama sekali tidak dibenarkan sekaligus mencederai marwah demokrasi tanah air.

“Menurut saya, ini sebenarnya kesalahan dari oknum calegnya. Di mana para oknum ini mengajak masyarakat untuk menaruh simpati dengan memberikan uang, sehingga hal itu menjadi budaya,” lanjutnya.

Hal itu menurut Bariun membuat demokrasi tidak lagi murni yang pada akhirnya melahirkan pemimpin-pemimpin tidak berkompeten pula. Mereka hanya mementingkan diri sendiri dibanding masyarakatnya.

Fenomena seperti itu menjadi tantangan dan tugas berat yang wajib dilakukan oleh Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Merekalah yang menjadi jembatan untuk melakukan fungsi pengawasan.

“Sepertinya saya melihat Bawaslu tidak berdaya. Jadi mereka nanti akan dipertanyakan integritasnya. Tentunya wajib dipertanyakan sudah sejauh mana mereka melakukan pengawasan,” ungkapnya.

Jika ditarik ke dunia kampus, mahasiswa yang salah satu fungsinya adalah agen perubahan, seharusnya bisa menjadi contoh dalam melaksanakan hak demokrasi mereka. Tentunya dimulai dari proses demokrasi internal di dalam kampus itu sendiri.

“Tidak perlu jauh-jauh mereka harus bisa mempraktekkan demokrasi yang baik saat pemilihan-pemilihan internal mereka. Misalnya pemilihan BEM atau lain sebagainya,” imbuhnya.

“Jangan sampai berbalik. Mereka mau menjadi agen perubahan, tetapi mereka juga yang menjalankan praktik-praktik yang mencederai proses demokrasi itu sendiri,” lanjutnya.

Bariun berharap, sebagai agen perubahan, mahasiswa bisa menjadi pemilih cerdas dan menjalankan pemilu yang berdaulat dan bermartabat serta menghindari praktik-praktik transaksional dalam pesta demokrasi.

“Tunjukan bahwa pilihan kita bisa membawa aspirasi yang kita inginkan untuk mewujudkan bangsa atau daerah yang lebih baik dan bermartabat,” pungkasnya.

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: