Call Center 112 Kota Kendari Dipenuhi Prank, Pemkot: Jangan Gunakan untuk Bercanda

Kendari – Layanan darurat 112 milik Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari yang baru saja diresmikan kini menghadapi tantangan serius yakni, membanjirnya prank call atau panggilan iseng dari masyarakat. Dari total 2.360 panggilan yang masuk pada periode 9 – 17 Juni 2025, hanya 22 di antaranya yang benar-benar merupakan laporan darurat yang valid.
Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Digital (Komdigi) Kota Kendari, Sahuriyanto, Rabu (18/6/2025). Ia menyebut bahwa dari seluruh panggilan yang diterima, hanya 1.382 yang berhasil dijawab oleh petugas, sementara sisanya didominasi oleh panggilan percobaan maupun yang terindikasi sebagai candaan.
“Kami sudah melakukan bimbingan teknis di awal peluncuran. Indikasi prank call memang sangat mungkin terjadi karena layanan ini masih tergolong baru. Bisa jadi masyarakat masih mencoba-coba atau belum yakin apakah 112 sudah aktif,” jelas Sahuriyanto kepada awak media.
Layanan 112 sejatinya dirancang sebagai pusat aduan masyarakat yang terintegrasi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Setiap laporan masuk akan otomatis dibuatkan tiket dan diteruskan ke OPD terkait melalui akun dan sistem yang terkoneksi ke ponsel operator masing-masing dinas. Laporan yang masuk mencakup berbagai hal, mulai dari permintaan bantuan sosial, gangguan lampu jalan, hingga kejadian pohon tumbang.
Namun, efektivitas sistem tersebut terancam oleh maraknya laporan palsu. Banyak panggilan yang masuk tanpa ada suara, atau hanya terdengar sebentar lalu ditutup. Situasi ini tidak hanya menghambat respons cepat terhadap laporan yang benar-benar darurat, tetapi juga membebani petugas yang berjaga.
“Kami punya call taker yang harus menerima puluhan hingga ratusan panggilan per hari. Tetapi banyak yang hanya memanggil lalu dimatikan. Kesan bermain-main ini yang sangat kami sayangkan,” tegas Sahuriyanto.
Ia pun mengimbau agar masyarakat lebih bijak menggunakan layanan 112. Menurutnya, nomor ini bukan untuk bercanda atau iseng, melainkan diperuntukkan bagi keadaan genting yang membutuhkan respons segera dari pemerintah atau aparat teknis.
“Kami berharap masyarakat makin peka dan sadar bahwa layanan ini adalah bagian dari upaya pemerintah menciptakan kota yang responsif. Jadi tolong gunakan secara bertanggung jawab,” pungkasnya.





