Derita Masyarakat Routa Konawe, Jadi Daerah Tertinggal dengan Polemik Jalan Rusak dan Listrik
Konawe – Warga Kelurahan Routa, Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), masih hidup dalam keterbatasan infrastruktur dasar. Jalan rusak parah dan pasokan listrik yang kerap padam menjadi masalah utama yang dirasakan masyarakat hingga kini.
Ahmad, warga Routa, mengatakan akses jalan menuju wilayahnya nyaris tak pernah tersentuh perbaikan serius. Kerusakan terjadi hampir di sepanjang jalur utama yang menghubungkan Routa dengan daerah lain, sehingga aktivitas ekonomi dan mobilitas warga sangat terganggu.
“Sekitar 80 kilometer dari Tetewatu ke Routa, jalan rusak parah sejak dulu. Kehadiran perusahaan di sekitar itu tidak memiliki manfaat yang signifikan,” ujar Ahmad kepada Kendariinfo, Jumat (20/2/2026).
Selain persoalan jalan, warga juga menghadapi dampak lingkungan akibat aktivitas pertambangan. Sungai Lalindu yang selama ini dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari disebut telah tercemar, sehingga menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat setempat.
Meski demikian, Ahmad mengakui tidak semua perusahaan bersikap abai. Ia mencontohkan PT Abadi Nikel Nusantara (ANN) yang dinilai turut membantu masyarakat, meskipun perusahaan tersebut tidak berbasis di wilayah Routa.
“Bahkan ada perusahaan dari Morowali, PT ANN yang notabene bukan berbasis di Routa, tidak pakai jalan itu, tetapi kami heran malah dia membantu masyarakat dengan melakukan pengerasan jalan. Ada juga PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), tetapi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat luas, hanya sebagian-sebagian saja yang mereka mau bantu,” ujar Ahmad.
Masalah lain yang tak kalah krusial adalah listrik. Ahmad menyebut pemadaman listrik terjadi berulang kali dengan durasi yang cukup lama, membuat warga kesulitan menjalankan aktivitas sehari-hari, terutama pada malam hari.
“Lampu itu padam sering sekali, semingguan baru menyala. Itu pun setelah menyala sehari, baru padam lagi. Padam, menyala, padam, begitu terus sejak dulu,” ungkapnya.
Ahmad pun mempertanyakan perhatian pemerintah terhadap kondisi masyarakat Routa yang tergolong terpencil. Menurutnya, wilayah Routa menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) yang besar dari sektor pertambangan, namun manfaatnya belum dirasakan secara merata oleh warga.
“Tersisa pemerintah mau melihat kami masyarakat terpencil ini atau tidak. Padahal, kalau dihitung PAD di Routa dari sektor pertambangan besar sekali. Ada juga PT SCM yang suka janji masyarakat, tetapi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tutup Ahmad.
