Dituding Cemari Lingkungan, PT GKP Libatkan Ahli Hidrologi Teliti Penyebabnya: Curah Hujan Tinggi
Konawe Kepulauan – PT Gema Kreasi Perdana (GKP) dituding aktivitasnya selama ini sebagai penyebab utama keruhnya sumber mata air di Rokoroko, Pulau Wawonii, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep). Pihak perusahaan pun membantah hal tersebut.
Koordinator Humas PT GKP, Marlion menjelaskan bahwa dari hasil pengecekan lapangan yang melibatkan ahli hidrologi dan pemerintah setempat serta masyarakat desa, didapati bahwa sumber utama keruhnya air karena adanya peningkatan curah hujan di Kabupaten Konkep yang tengah dalam fase peralihan musim.
Kondisi ini mendorong curah hujan dengan intensitas tinggi ke beberapa wilayah disana. Curah hujan tinggi ini membawa serta lapisan tanah permukaan, ditambah pula banyaknya anak sungai yang kering saat musim kemarau, menjadi penuh ketika hujan datang.
Akibatnya, semua lapisan tanah permukaan tersebut, mengarah ke sungai besar bahkan juga menerobos sampai ke sumber-sumber air bersih warga. Dua desa di Rokoroko Raya, yakni Desa Sukarela Jaya dan Desa Dompodompo dengan sumber mata air yang sama, mengalami kekeruhan.
“Kalau masyarakat Wawonii sudah pasti tahu pasti, bagaimana kondisi di sini jika musim hujan datang. Bukan hanya air yang keruh, bahkan ada beberapa wilayah misalkan di Wungkolo (Wawonii Tengah), tidak dapat dilalui kendaraan, karena banjir. Bahkan, air sudah sejajar dengan pagar jembatan setinggi 1 meter,” ujar Marlion melalui keterangan resminya, Sabtu (1/7/2023).
Kondisi keruh yang dialami warga Sukarela Jaya dan Dompodompo Jaya ini, lanjut Marlion, langsung direspons cepat oleh PT GKP dengan membentuk tim cepat tanggap yang langsung bergerak untuk memberikan bantuan air bersih kepada desa-desa yang terdampak.
“Banyak rumor yang menyatakan kalau kondisi air keruh ini berdampak ke seluruh desa di Rokoroko Raya. Sebenarnya tidak seperti itu. Hanya dua desa yang terdampak,” ujar dia.
Ia menuturkan PT GKP melakukan berbagai langkah untuk mengatasi masalah air bersih tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah memenuhi kebutuhan air bersih warga dengan memasok air bersih ke rumah-rumah warga menggunakan beberapa water truck dengan kapasitas 5.000 dan 8.000 liter.
“Tim kita di lapangan melakukan penyaluran, tidak hanya siang hari, bahkan sampai larut malam, sampai semua warga di dua desa tersebut benar-benar sudah mendapatkan pasokan air bersih,” ujarnya.
Langkah penanganan lain yakni membersihkan bak penampung air warga di dua desa. Setelah bersih, water truck mengisi bak penampung yang selanjutnya dialirkan ke rumah warga mengikuti jalur pipa yang selama ini dipergunakan masyarakat.
Marlion mengungkapkan upaya lain yang juga dilakukan perusahaan yakni membuat sumur bor dan tandon penampungan air bersama masyarakat. Air dari sumur bor ini kemudian dialirkan ke pipa-pipa yang juga selama ini dipakai masyarakat sebagai alternatif pengganti suplai air bersih ke rumah-rumah seluruh warga.
Selain ketiga hal tersebut di atas, upaya pencarian sumber air bersih juga masih terus dilakukan. Berbagai kegiatan pemulihan air bersih ini melibatkan pemerintah desa dan masyarakat sekitar.
Seorang warga bernama Aswan mengatakan tim dari perusahaan bersama masyarakat melakukan pencarian ke berbagai sumber air yang bisa dijadikan alternatif untk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.
“Kita harus bergerak bersama. Dari perusahaan, pemerintah desa, dan juga masyarakat. Kami memberikan informasi kepada perusahaan terkait beberapa sumber air yang bisa digunakan. Kemudian bersama-sama melakukan survei,” ujar dia.
Berbagai upaya pemulihan air bersih ini juga dapat dilihat sebagai langkah antisipasi dan alternatif untuk semua pihak, termasuk PT GKP yang juga telah menjadi bagian dari komunitas masyarakat di Pulau Wawonii, jika kondisi curah hujan tinggi ini terjadi kembali di masa mendatang.
Kepala Desa Sukarela Jaya Samaga menuturkan warga secara aktif memberikan informasi beberapa sumber air yang masih bisa digunakan sebagai alternatif. Dari informasi tersebut, kemudian bersama tim melakukan peninjauan.
Dari beberapa lokasi yang disampaikan, ada yang hanya ditempuh paling lama 1 jam dengan medan yang datar, tetapi ada pula yang harus ditempuh berjam-jam dengan medan yang tidak mudah dilewati.
“Memang masalah air ini adalah masalah yang sangat vital, sehingga kita perlu melakukan antisipasi dan mencari jalan alternatif agar kebutuhan air bersih warga tidak kekurangan,” ungkapnya.
Lebih lanjut Samaga menjelaskan, dengan berbagai upaya yang dilakukan bersama perusahaan, kebutuhan air bersih masyarakat sudah bisa terpenuhi. Dia juga mengimbau semua pihak untuk tetap tenang dan bijak menanggapi berbagai informasi yang beredar di luar sana. Kondisi aktivitas di desa tetap berjalan normal.
Camat Wawonii Tenggara, Iskandar menututkan kondisi air konsumsi dan air sungai di Wawonii Tenggara perlahan sudah mulai membaik. Namun, proses perbaikan dan mitigasi masih terus berjalan hingga sekarang. Apalagi, musim hujan di Pulau Wawonii terbilang cukup panjang. Biasanya, musim hujan mulai datang sejak bulan Mei sampai akhir Agustus.
“Itu tidak benar, tidak terjadi (pencemaran). Saya selalu memantau di seluruh wilayah Wawonii Tenggara di mana tambang itu ada, air itu tidak berubah. Jika pencemaran itu terjadi, pasti saya sendiri yang langsung mengkritisi pihak perusahaan karena konsumsi masyarakat di sini sepenuhnya berasal dari sungai-sungai kecil dan besar,” ujarnya.
Lebih jauh dia menegaskan, saat musim hujan datang, wajar jika air keruh karena tercampur dengan aliran air dari permukaan tanah. Sebelum ada tambang pun sudah seperti itu. Namun, ketika hujan sudah reda, sungai akan kembali jernih. Sehingga lanjut dia, rumor terkait adanya pencemaran lingkungan, sama sekali tidak terjadi.
Apresiasi terhadap langkah cepat PT GKP dalam menangani persoalan air bersih yang dialami warga dua desa di Rokoroko Raya ini juga disampaikan Wakil Bupati Konawe Kepulauan, Andi Muhammad Luthfi.
Menurut dia, hal ini membuktikan tanggung jawab sosial perusahaan terhadap masyarakat.
“Kita mengapresiasi atas apa yang dilakukan perusahaan. Menangani persoalan yang sedang dihadapi, sekaligus juga melakukan antisipasi dan mitigasi untuk jangka panjang,” bebernya.
