Doa Bersama Satbrimob Polda Sultra di Masjid Al-Alam Kendari, Mengenang Tragedi Kanjuruhan
Kendari – Sejumlah personel Brimob Polda Sultra melakukan doa bersama di Masjid Al-Alam Kendari, Jumat (14/10/2022). Hal tersebut dilakukan dalam rangka mengenang tragedi Kanjuruhan Malang beberapa waktu lalu.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat utama dari Mako Brimob Polda Sultra dan juga Penjabat (Pj.) Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu bersama sejumlah pejabat lainnya serta para tokoh agama.
Doa bersama dilakukan usai pelaksanaan salat Jumat secara berjemaah di Masjid Al-Alam Kendari. Para jemaah dan anggota Brimob Polda Sultra membacakan selawat, ayat-ayat pendek, tausiah, dan mengirim doa kepada seluruh korban yang tewas dalam tragedi tersebut.
Komandan Satuan (Dansat) Brimob Polda Sultra, Kombes Pol Adarma Sinaga melalui Kabag Ops Satbrimob Polda Sultra, AKP Asri Diyni mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk mendoakan para suporter Arema yang tewas pada 1 Oktober 2022 lalu.
“Ini adalah bentuk kepedulian kami kepada saudara-saudara kami di Malang yang tewas dalam tragedi tersebut. Semoga amal ibadah mereka diterima di sisi Allah dan keluarga yang ditinggalkan dapat bisa diberi ketabahan,” ujarnya saat ditemui.
Asri menambahkan, tragedi yang terjadi di Stadion Sepak Bola Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur (Jatim) menjadi pembelajaran bagi seluruh pencinta sepak bola untuk tidak membuat gerakan tambahan apalagi yang membahayakan nyawa manusia.
Sementara itu, Pj Wali Kota Kendari, Asmawa Tosepu mengapresiasi langkah Brimob Polda Sultra yang menyelenggarakan doa bersama itu. Katanya, sebagai sesama manusia sudah menjadi kewajiban untuk saling mendoakan antara satu dengan yang lainnya.
“Kita berharap semua instansi-instansi terkait tidak henti-hentinya mengirimkan doa kepada korban tragedi Kanjuruhan. Semoga ini yang pertama dan terakhir kali terjadi di dunia sepak bola kita,” katanya saat membawakan sambutan.
Untuk diketahui, dalam BRI Liga 1 2022 yang mempertemukan kesebelasan Arema FC vs Persebaya FC di Stadion Kanjuruhan berakhir ricuh. Suporter Arema yang tidak menerima kekalahan di kandang sendiri berulah dan membuat kericuhan di dalam lapangan. Bahkan, sejumlah fasilitas dirusak dan mobil polisi dibakar.
Untuk menghalau massa, polisi menembakan gas air mata. Nahasnya, para penonton yang kesulitan bernafas dan tidak sanggup menahan perihnya gas air mata tersebut berlarian ke luar stadion. Sehingga membuat ratusan penonton terluka hingga meninggal akibat saling berdesakan.
