Festival Kabuenga Wa Sinta di Wakatobi, Ruang Pencarian Jodoh Sarat Nilai Budaya

Wakatobi – Masyarakat Pulau Kapota, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), kembali merayakan Festival Kabuenga Wa Sinta. Tradisi tersebut dihelat di Lapangan Pulau Kapota, Desa Kapota Utara, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Minggu (5/4/2026).
Kegiatan kali ini dirangkaikan dengan parade sarung leja dan budaya antardesa, pementasan kisah La Lili Alamu dan Wa Siogena, serta sejumlah prosesi adat lainnya.
Dalam bahasa setempat, kata “Kabuenga” berarti ayunan. Adapun “Wa Sinta” adalah panggilan sayang untuk seseorang.
Tradisi ini dikenal erat sebagai ruang pencarian jodoh. Dalam sejarahnya, diceritakan legenda putra Raja Kapota bernama La Lili Alamu yang begitu mencintai seorang wanita dari kalangan rakyat biasa bernama Wa Siogena. Cinta mereka tak lekang oleh waktu, meskipun harus menghadapi tantangan restu orang tua pria.
Dengan hati kecewa karena restu orang tua terhadap pujaan hatinya tak kunjung diberikan, La Lili Alamu memutuskan pergi meninggalkan Pulau Kapota.
Karena rindu yang tidak bisa ditahan oleh Sang Ibunda, La Lili Alamu yang saat itu berada di perantauan kemudian dipanggil pulang ke tanah asalnya, Pulau Kapota. Di sana, sebuah sayembara disiapkan untuk mencari pendamping hidupnya. Para gadis dari berbagai penjuru diundang mengikuti prosesi tersebut, namun yang ditampilkan hanya sarung leja yang dipajang di ayunan.
La Lili Alamu pun mengitari deretan sarung yang terpajang. Di tengah pencariannya, ia berhenti di depan salah satu sarung yang tertindih sarung lainnya. Takdir terukir indah, sarung itu ternyata milik wanita yang begitu dicintainya, Wa Siogena.
Meski sempat dianggap tidak sederajat, kedua orang tua La Lili Alamu akhirnya tidak dapat menolak kehendak takdir. Saat itulah Wa Siogena diumumkan sebagai calon permaisuri putra sang raja.
Kisah pencarian cinta sejati itu menggema dalam prosesi kabuenga. Hingga kini, cerita itu tumbuh menjadi bagian dari sejarah masyarakat Pulau Kapota.
Ketua Panitia Kabuenga Wa Sinta, Nasrun, menyampaikan tradisi budaya yang terlaksana di tengah masyarakat itu bukan sekadar untuk dikenang, tetapi juga untuk diperjuangkan, sebagaimana perjuangan cinta La Lili Alamu dan Wa Siogena di tanah kelahirannya.
“Ini bukan sekadar hari pertunjukan, ini adalah cerita tentang perjuangan cinta terhadap tanah kelahiran. Tradisi ini bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk diperjuangkan,” ujar Nasrun dalam sambutannya.
Baginya, tradisi Kabuenga Wa Sinta merupakan warisan leluhur yang tidak boleh luntur. Selain menjadi ruang perjodohan, tradisi ini juga menjadi momentum mempererat persaudaraan.
“Mari kita jaga, rawat, dan buktikan bahwa dari Pulau Kapota lahir budaya yang besar dan mampu menginspirasi Indonesia bahkan dunia,” imbaunya.
Bupati Wakatobi, Haliana, yang membuka langsung Festival Kabuenga Wa Sinta meminta masyarakat untuk mengabadikan setiap kisah yang berasal dari masyarakat setempat agar dapat diwariskan dari generasi ke generasi, sehingga warisan budaya yang ada tidak hilang tergerus zaman.
“Tidak hanya cukup berhenti di sini. Untuk itu, maka harus dicatat, didokumentasikan. Jagalah persatuan dan kesatuan. Masyarakat Kapota tidak bisa terbelah hanya karena perbedaan warna-warni,” pungkas Haliana.





