Guru di Baubau Rundung Siswinya Sendiri, Ini Kata Psikolog

Baubau – Dosen Psikologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Yuliastri Ambar Pambudhi menanggapi soal video perundungan (bullying) yang dilakukan oknum guru berinisial AS kepada siswinya sendiri di sekolah dasar (SD) Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Pada video yang diterima Kendariinfo, AS merekam siswinya yang sedang menangis di sudut ruang kelas. AS bersama siswanya yang lain juga terus mengejek korban. Selain itu, AS mengancam, rekaman video tersebut akan dibagikan ke orang tuanya karena telah salah menulis, lalu menangis.
“Yang penting tidak ada yang ganggu toh. Sebentar saya kirim di WA grup ini, disuruh kerjakan di papan, tidak tahu, menangis, supaya dibaca mamanya. Saya kirim di WA, menangis mi, kakak menangis mi,” ujar AS dalam video itu.

Yuliastri mengatakan, hukuman yang diberikan AS kepada siswinya semacam sanksi sosial agar anak tidak berbuat salah. Tapi, menurut Yuliastri, sanksi sosial belum tepat diberikan kepada anak-anak. Seharusnya guru mendidik, memberi tahu, memberikan kesempatan, dan mencontohkan kepada anak cara memperbaiki kesalahannya.
“Apa yang dilakukan di video tersebut, kalau saya melihatnya adalah sanksi sosial. Di mana hal itu belum tepat diberikan kepada anak. Sebaiknya cara-cara seperti ini tidak untuk dikembangkan di sekolah-sekolah. Seharusnya kembali lagi ke pembelajaran yang semestinya, mendidik anak, fokus pada kesalahan anak kalau memang dia keliru, dan tunjukkan bagaimana memperbaiki kesalahan tersebut,” katanya, Minggu (31/10/2021).
Dia menjelaskan, sanksi sosial akan berdampak pada psikologis anak karena malu. Selain itu, dengan sanksi yang dicontohkan oleh oknum guru AS, anak akan belajar bahwa cara menanggapi kesalahan adalah dengan memberinya sanksi sosial. Bahkan yang lebih parah, anak akan menjadi pelaku bullying.
“Kalau mereka dididik dengan sanksi sosial, ya ke depannya anak-anak ini, kalau dia belajar bahwa, oh ternyata menanggapi orang salah itu dengan cara merekam videonya, kemudian disebarluaskan. Bisa dilihat nanti ke depannya anak-anak ini, dia juga akan menjadi pelaku bullying,” jelasnya.
Sementara itu, Psikolog Sitti Mikarna Kaimuddin mengungkapkan, mental anak akan berbeda-beda jika ditantang untuk tampil ke depan. Ada yang ditantang semakin berani atau menciut karena kurang percaya diri. Namun, untuk anak yang kurang percaya diri, dia akan mengalami trauma untuk melakukan hal serupa di kemudian hari karena diberikan sanksi sosial oleh gurunya.

“Mungkin akan berbeda-beda. Ada perasaan malu, sedih, kecewa, mungkin hal yang lain tidak bisa kita pastikan. Tapi kalau kondisi seperti itu, bisa memunculkan beberapa hal. Bisa jadi anak trauma untuk melakukan hal itu lagi. Jadi mungkin akan ketakutan kalau dia tipikal anak yang merendah diri misalnya. Jadi dia punya kepercayaan diri yang rendah, kalau dia di-bullying seperti itu, dia akan susah untuk percaya diri lagi di kemudian hari untuk maju ke depan,” ungkapnya.
Dosen Jurusan Psikologi UHO juga itu menyarankan, seharusnya guru memiliki pengetahuan tentang karakter setiap anak didiknya. Dengan begitu, guru dapat mengetahui hukuman dan penghargaan yang akan diberikan kepada siswa-siswinya.
“Untuk pendekatan psikologis setiap anak didik, setiap guru itu tidak hanya di sekolah dasar. Tapi dari kelompok bermain, PAUD, TK, SD, SMP, sampai SMA, guru memiliki ilmu tentang bagaimana melihat karakteristik. Minimal kalau kita sering ketemu dengan murid, dia tahu, oh anak ini akan seperti itu. Jadi cara memberikan sanksi dan reward pun itu tidak harus sama, antara anak yang satu dengan anak yang lain. Harusnya, idealnya seperti itu,” pungkasnya.





