Hilirisasi di Sultra Harus Berdampak dan Jadi Motor Penggerak Kesejahteraan Masyarakat

Kendari – Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) menggandeng Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggelar seminar nasional bertajuk “Kajian Strategis Energi dan Hilirisasi dalam Mendukung Pembangunan Nasional” di Claro Hotel, Kota Kendari, Selasa (20/5/2025).
Seyogianya kegiatan ini akan dihadiri oleh Menteri ESDM RI, Bahlil Lahadalia, namun berhalangan hadir. Selain itu turut hadir para pembicara seperti Irwanuddin H. I Kulla, Musri, Ruksamin hingga Prof Young Shang, pembicara asal Tiongkok.
Ketua panitia seminar, Eny Samayati mengatakan kegiatan ini akan menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan. Menurut dia, hilirisasi bukan sekadar proses industri, melainkan arah baru pembangunan bangsa yang menempatkan nilai tambah, keberlanjutan, dan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama.
“Dan ketika kita bicara soal hilirisasi, kita tidak bisa melewatkan Sulawesi Tenggara. Sulawesi Tenggara adalah tanah harapan. Tanah yang menyimpan kekayaan luar biasa, baik dari sektor pertambangan maupun dari potensi besar energi baru dan terbarukan,” ujar Eny saat memberikan sambutan.
Ia mengatakan potensi ini jika dikelola dengan benar, tidak hanya akan menopang pertumbuhan ekonomi daerah dan nasional, tetapi juga menjadi motor penggerak kesejahteraan sosial.
Namun demikian, Sultra masih menyimpan banyak potret kontradiksi. Di satu sisi, tanahnya menyimpan kekayaan mineral yang diperebutkan dunia. Namun di lain sisi, masih banyak masyarakat lokal yang hidup dalam ketertinggalan, termasuk dalam hal pendidikan.
Maka dari itu, seminar ini bukan hanya ruang diskusi teknis soal energi dan hilirisasi. Seminar ini harus menjadi ruang refleksi kolektif agar kebijakan nasional tentang hilirisasi benar-benar membumi, menyentuh masyarakat paling pinggir, dan menghadirkan keadilan sosial.
“Kami berharap forum ini tidak berhenti pada tataran konsep dan kajian. Tetapi menjelma menjadi pendorong nyata, mendorong perusahaan tambang untuk tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi ikut membangun akses pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur,” bebernya.





