Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Infeksi Paru-paru dan Saraf Terjepit, Siti Maesyaroh Butuh Bantuan Dermawan

Infeksi Paru-paru dan Saraf Terjepit, Siti Maesyaroh Butuh Bantuan Dermawan
Siti Maesyaroh menderita penyakit infeksi paru-paru dan saraf terjepit, dirawat di rumah sakit. Foto: Istimewa.

Kendari – Sungguh malang nasib Siti Maesyaroh (23). Dia harus berjuang melawan penyakit yang dideritanya di kala ibunya baru saja meninggal, ditambah penghasilan ayahnya yang pas-pasan.

Saroh, sapaan akrabnya, menderita sakit infeksi paru-paru dan saraf terjepit. Sudah lama penyakit itu menggerogotinya, hingga membuat berat badan Saroh pun menurun drastis.

Dia didiagnosis menderita saraf terjepit, setelah terjatuh karena menahan beban kendaraan roda dua pada 2020 silam. Karenanya, tulang punggung Saroh mengalami dislokasi.

Hal ini diceritakan oleh sahabat Saroh, bernama Jumi. Dia adalah teman dekat Saroh sejak menempuh pendidikan di bangku SMK.

“Beberapa hari dia belum merasakan sakit, nanti sudah berminggu-minggu sakitnya terasa ketika Saroh bangun tidur. Punggung belakangnya sakit, dianggapnya cuma keseleo biasa,” kata Jumi, Sabtu (14/8/2021).

“Sakitnya tidak hilang-hilang meski sudah minum obat apotek dan herbal, urut juga sudah dilakukan tapi tidak ada perubahan. Diputuskanlah ke dokter dan dirontgen, hasilnya bagian tulang punggungnya itu bergeser,” ungkapnya.

Sahabat karibnya ini juga menjelaskan, jika Saroh pernah dirawat di RS Korem Kota Kendari. Di sana, tulang punggungnya diberi gips, namun perawatan ini tidak memberi perubahan pada tulangnya.

“Obat hanya menghilangkan rasa nyeri sementara, setelah itu sakitnya datang lagi,” imbuh Jumi.

Kondisi Saroh untuk melawan penyakitnya, memang membangkitkan rasa kemanusiaan kita. Terlebih, mental wanita muda ini harus diguncang karena kematian ibunya dua bulan yang lalu.

Baca Juga:  Lupa Matikan Api Tungku Sebabkan Kebakaran Rumah di Mubar, Kerugian Rp250 Juta

Selain itu, himpitan ekonomi juga makin menderanya. Ayah Saroh bekerja sebagai pedagang mainan keliling. Di saat pandemi Covid-19, dia hanya mendapatkan Rp50 ribu per hari.

“Ibunya dimakamkan di Jawa. Nah, sepulangnya dari Jawa Saroh makin drop, beberapa minggu lalu dia sesak napas hingga sangat mengganggu aktivitasnya,” jelasnya.

“Akhirnya dia dilarikan di RS Santa Anna, karena sudah tidak bisa tahan sesaknya. Hingga sekarang Saroh dirawat dengan BPJS,” tutur Jumi.

Kini, penyakit yang diderita Saroh sudah genap 1 tahun 1 bulan. Dia sangat optimis untuk sembuh dari belenggu penyakitnya, namun untuk itu Saroh membutuhkan uluran tangan para dermawan.

Donasi untuk biaya perawatan Saroh dapat dikirimkan melalui salah satu dari empat nomor rekening yang sudah tertera di pamflet donasi.

Untuk diketahui, Saroh merupakan mahasiswi alumni Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Halu Oleo. Dia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjananya pada Desember 2020.

Pamflet donasi untuk Siti Maesyaroh.
Pamflet donasi untuk Siti Maesyaroh. Foto: Istimewa.
Penulis
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten