Jalan Lambo Tua Koltim Memprihatinkan saat Kemarau, Warga Keluhkan Dampaknya
Kolaka Timur – Kondisi jalan penghubung di Desa Lambo Tua, Kecamatan Mowewe, Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra), memprihatinkan saat musim kemarau.
Dalam unggahan akun Facebook Suprianto Koltim pada Rabu (2/9/2026), jalan yang menjadi akses warga tersebut tampak kering dan berdebu. Debu beterbangan setiap kali kendaraan melintas.
Pemilik akun yang merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Koltim dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV itu menyebut debu dari jalan tersebut masuk hingga ke rumah warga, warung, dan sekolah.
Suprianto juga menyebut kondisi tersebut berdampak terhadap kesehatan warga serta hasil perkebunan yang diangkut melalui jalan tersebut.
“Debu masuk ke rumah warga, ke warung, ke sekolah. Anak-anak dan lansia banyak yang batuk dan ISPA. Hasil kebun seperti kakao, jagung, sayur, dan hasil kebun lainnya rusak karena getaran, hentakan kendaraan, dan debu saat diangkut ke pasar induk di Mowewe dan Kota Kolaka,” tulis Suprianto dalam keterangan unggahannya.
Selain saat kemarau, Suprianto menyoroti kondisi jalan tersebut ketika musim hujan. Menurutnya, jalan berubah menjadi kubangan lumpur dengan lubang sedalam 30 – 50 sentimeter sehingga kendaraan rawan tergelincir saat melintas.
Atas kondisi tersebut, Suprianto mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Koltim mengambil langkah dengan memerintahkan Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Koltim untuk mencari solusi.
Ia mengusulkan sejumlah penanganan yang terbagi dalam jangka pendek selama 1 – 4 bulan dan jangka panjang selama 1 – 3 tahun.
Untuk jangka pendek, penanganan yang diusulkan berupa perbaikan darurat atau penimbunan jalan, pembuatan drainase sementara, penyiraman jalan saat kemarau, penganggaran penurunan elevasi puncak di jalan Desa Lambo Tua, serta pemasangan penerangan jalan umum.
Sementara untuk jangka panjang, Suprianto mengusulkan peningkatan kualitas jalan melalui pengerasan dan betonisasi, pembangunan drainase permanen dan talud, serta melibatkan BUMDes dan masyarakat.
