Komdigi di Kendari Soroti Ledakan AI dalam Jurnalistik, Jurnalis Diminta Tak Sekadar Jadi “Perekam”
Kendari – Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama Dewan Pers menyoroti masifnya perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) yang kini mulai mengubah pola kerja industri media dan jurnalistik.
Isu tersebut mengemuka dalam kegiatan Insight Talk bertema “Literasi Media: Cerdas di Era Kecerdasan Artifisial” yang digelar di salah satu hotel Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (13/5/2026).
Direktur Ekosistem Media Komdigi, Farida Dewi Maharani, mengungkapkan laju adopsi AI di tengah masyarakat berlangsung sangat cepat. Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, tingkat penggunaan teknologi tersebut disebut telah mencapai 92 persen.
Farida menyebut, saat ini AI memang masih dominan dimanfaatkan untuk kebutuhan hiburan dan penggunaan personal. Namun menurutnya, teknologi itu memiliki potensi besar untuk meningkatkan produktivitas di berbagai sektor, termasuk dunia jurnalistik.
“Perkembangan AI ini luar biasa cepat. Tantangannya sekarang bagaimana pemerintah, Dewan Pers, media, dan masyarakat bisa menggunakannya untuk hal-hal yang lebih produktif,” ujarnya.
Ia menilai kemampuan menguasai AI kini bukan lagi sekadar nilai tambah, melainkan sudah menjadi kebutuhan agar mampu bersaing secara global di era transformasi digital.
Dalam forum tersebut, Farida juga menyinggung perubahan pola kerja di ruang redaksi. Menurutnya, sejumlah pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu lama kini dapat diselesaikan lebih cepat berkat bantuan AI, salah satunya proses transkrip wawancara.
“Sekarang transkrip wawancara bisa selesai hanya dalam hitungan detik. Jadi jurnalis jangan hanya berhenti sebagai perekam informasi. Gunakan AI untuk membantu mencari ide dan meningkatkan produktivitas kerja,” katanya.
Meski mendorong pemanfaatan teknologi AI, Farida mengingatkan penggunaan kecerdasan buatan dalam produk jurnalistik tetap harus berada dalam koridor etika pers.
Ia menegaskan, peran manusia dalam proses verifikasi informasi tetap tidak bisa digantikan oleh mesin. Karena itu, media diminta tetap menjadikan Kode Etik Jurnalistik sebagai pedoman utama dalam penggunaan AI di ruang redaksi.
“Ada hal-hal yang tidak dapat digantikan oleh AI. Verifikasi akhir tetap harus dilakukan manusia. Transparansi juga penting jika sebuah konten dibuat dengan bantuan AI,” pungkasnya.
