Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Opini

Kota Lulo dan Banjir di Indonesia

22
0
Tulisan dari tidak mewakili pandangan dari redaksi kendariinfo
Surya Thalib, Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Islam Sultan Agung Semarang, asal Kota Kendari. Foto: Istimewa.

Wilayah Indonesia terletak di garis ekuator, sehingga memiliki musim hujan dalam waktu lama dan musim kemarau dengan waktu singkat. Kejadian tersebut disebabkan wilayah-wilayah yang berada pada garis equator saling bertemu antara zona pertemuan dua massa udara dari dua belahan dunia sehingga posisinya relatif sempit berada pada lintang rendah atau dikenal dengan nama ekuator panas (heat equator).

Ibu Kota Negara Indonesia sering mengalami banjir besar sejak zaman Kolonial Belanda pada Era kekuasaan VOC di Nusantara, Kota Batavia sekarang kini dikenal dengan nama DKI Jakarta pernah mengalami banjir pada tahun 1654 karena hujan deras berlangsung cukup lama, menyebabkan meluapnya air sungai hingga terjadi banjir besar pada Batavia saat itu, kejadian tersebut berulang kali terjadi pada tahun 1872, 1893, 1909, 1918, 1932 hingga saat ini.

Indonesia kerap kali mengalami banjir terutama pada wilayah DKI Jakarta disebabkan curah hujan intensitas tinggi dengan durasi singkat namun sering terjadi di wilayah tersebut, menyebabkan sejumlah kawasan terendam banjir dan melumpuhkan aktivitas masyarakat.

Tidak hanya di DKI Jakarta, melainkan di bagian Indonesia Timur juga mengalami hal yang sama seperti di Kota Kendari tidak lain adalah Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara yang dikenal sebagai Kota Lulo. Pada tahun 2013 Kota Kendari mengalami banjir besar disebabkan curah hujan intensitas tinggi yang mengakibatkan 13 sungai meluap. Banjir tersebut membuat sepuluh kecamatan di Kota Kendari terendam air, menyebabkan akses jalan ke beberapa wilayah lumpuh dan membuat satu orang meninggal dunia. Setelah banjir besar terjadi tahun 2013, Kota Kendari beberapa kali mengalami banjir dan tergenangnya permukaan jalan protokol kota tersebut yang disebabkan oleh hujan sehingga masyarakat mengalami kerugian cukup besar.

Banjir sering kali terjadi bukan karena faktor alam saja melainkan dari faktor manusia melakukan penebangan liar padahal hutan berfungsi sebagai daerah resapan air akibat curah hujan tinggi, manusia selalu menginginkan hidup sehat namun perilakunya sangat miris terhadap lingkungan seperti membuang sampah dialiran sungai, tindakan tersebut sangat tidak patut dicontoh karena dapat menyebabkan aliran sungai terhambat dan meluap ke permukaan sehingga terjadi banjir yang dapat menganggu kesehatan manusia dan lingkungan tempat kita beraktivitas bahkan hewan ikut terkena imbasnya.

Banjir juga bisa disebabkan pengaturan drainase yang kurang tepat, dalam hal ini drainase adalah infrastruktur penting bagi perkotaan untuk mengatasi banjir dan penggenangan air pada permukaan jalan. Jika pengaturan drainase perkotaan kurang baik tanpa mempertimbangkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dapat memicu risiko terjadinya banjir pada wilayah perkotaan. Begitu pula jika tata ruang kota kurang baik, pembangunan memang sangat baik untuk kegiatan ekonomi namun jika pembangunan dilakukan pada kawasan yang harusnya tanahnya meresap air justru dibangun sebuah bangunan membuat lahan terbuka hijau semakin berkurang hingga menyebabkan potensi terjadinya banjir.

Banjir memiliki dampak negatif sangat serius bagi kehidupan manusia, kesehatan lingkungan dan sosial ekonomi, contohnya kesehatan, banjir memiliki risiko mengancam nyawa manusia, dimulai dari penyakit hingga kematian, dampak banjir yang wajib diperhatikan yaitu terkena kuman bakteri, tenggelam, dan luka terkena serangan listrik yang menyebabkan kematian. Sedangkan pada sosial ekonomi banjir dapat merusak rumah termasuk lahan, melumpuhkan aktivitas manusia dan hilangnya akses transportasi hingga sulitnya mendapatkan air bersih.

Di tahun 2022, beberapa kali Kota Kendari mengalami banjir disebabkan hujan dan sistem drainase yang kurang baik, seperti pada Jalan Brigjend Katamso di Kelurahan Baruga masih saja tergenang air akibat kurangnya perawatan dan dimensi drainase untuk menampung hujan intensitas tinggi. Air yang menggenangi jalan tersebut berasal dari limpasan air hujan Jalan KS Tubun, mengakibatkan tergenangnya jalan tersebut padahal Jalan Brigadir Jendral Katamso baru mengalami perbaikan.

Seperti halnya Jalan H Supu Yusuf juga kerap kali mengalami kejadian serupa di Jalan Brigadir Jendral Katamso, maka jika terjadi hujan deras dalam waktu lama jalan tersebut pasti mengalami banjir, mengakibatkan warga tidak bisa melintas karena tingginya debit air. Seharusnya Pemkot membenahi drainase semaksimal mungkin drainase tersebut mengingat jalan tersebut adalah jalan yang berada di sekitaran MTQ salah satu ikon Kota Kendari yang sering kali dilewati banyak warga hingga pendatang dari wilayah lain.

Banjir merupakan permasalahan serius bagi warga karena menjadi penghambat aktivitas ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu pembenahan saluran drainase dan penambahan sumur resapan dangkal dan sumur resapan jalan protokol dinilai sangat layak untuk mengatasi banjir dan genangan air yang terjadi pada jalan protokol di Kota Kendari. Disebabkan sumur resapan dangkal dapat menekan air hujan pada permukaan jalan kemudian dialirkan ke sumur resapan untuk menampung air hujan, sehingga limpasan airnya tidak hanya dibebankan pada drainase saja untuk mengatasi volume air hujan berlebihan. Sumur resapan juga mempunyai manfaat lain yaitu berfungsi melestarikan air tanah pada kawasan yang mengalami penurunan tanah karena pemanfaatan air berlebihan. Pembangunan Polder di beberapa lokasi yang datarannya rendah di Kota kendari juga sangat perlu untuk menampung air hujan dan air yang
berasal dari hulu agar tidak menggenangi permukiman.

Sebaiknya Pemkot Kendari memberikan perhatian khusus terhadap fenomena banjir yang terjadi di wilayah Kota Kendari. Mengingat jalan raya adalah salah satu sarana yang paling dibutuhkan untuk keberlangungan aktivitas masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh: Surya Thalib, Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, Universitas Islam Sultan Agung Semarang, asal Kota Kendari.

Penulis
Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: