Lewat Lagu dan Permainan, Pasien RSJ Sultra Diajak Asah Kembali Kemampuan Kognitif
Kendari – Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) bersama Ikatan Alumni Duta Bahasa (Dubas) Sultra mengajak pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sultra mengasah kembali kemampuan kognitif melalui lagu dan permainan dalam kegiatan Krida Literasi Kebahasaan dan Kesastraan Inklusif, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan yang dikenal sebagai Literasi RSJ Sultra tersebut memberikan akses pembelajaran dasar kepada pasien, mulai dari membaca, menulis, berhitung, mengenali nilai uang, hingga memahami wawasan kebangsaan.
Pembina IKA Dubas Sultra, Dwi Pratiwi S. Husba, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari perhatian terhadap dua aspek penting dalam proses pemulihan pasien, yakni kemampuan kognitif dan sosial.
Menurutnya, kehadiran orang-orang dari luar lingkungan rumah sakit dapat membantu pasien membangun interaksi sosial sekaligus menumbuhkan perasaan diterima di lingkungan yang lebih luas.
“Ketika mereka hanya berhadapan dengan dokter dan perawat, mereka merasa bahwa mereka adalah pasien. Namun, ketika mereka berhadapan dengan orang luar yang tidak mereka kenal, tetapi mau bersama mereka, mereka merasa diterima,” kata Dwi.
Meski interaksi sosial mulai terbangun melalui kegiatan bersama, Dwi menilai pengembangan kemampuan kognitif pasien juga perlu mendapat perhatian. Ia menyebut kemampuan dasar sebagian pasien perlu kembali distimulasi melalui aktivitas yang sesuai dengan kondisi mereka.
Untuk itu, Balai Bahasa Sultra menggunakan pendekatan lima literasi dasar, yakni baca tulis, numerasi, keuangan, wawasan kebangsaan, dan sains.
Dalam literasi sains, pasien diajak melakukan kegiatan sederhana, seperti mencampur warna. Pada literasi keuangan, pasien diperkenalkan dengan berbagai pecahan uang, termasuk Rp10.000 dan Rp50.000.
Sementara itu, literasi wawasan kebangsaan dilakukan melalui pengenalan lagu kebangsaan, budaya, dan permainan sederhana. Pasien dapat diajak melanjutkan lirik lagu Indonesia Raya maupun menyanyikan lagu anak-anak yang sudah mereka kenal.
Dwi menilai lagu-lagu yang melekat dalam ingatan sejak masa lalu dapat menjadi salah satu pendekatan untuk membangun keterlibatan pasien dalam kegiatan literasi. Pendekatan tersebut dinilai relevan, terutama bagi pasien berusia 40 tahun ke atas yang masih mengenali lagu-lagu tersebut.
