Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Education

Mahasiswa asal Kolaka Buat Desain Museum Etnologi Mekongga, Terinspirasi dari Bunga Sorume

Mahasiswa asal Kolaka Buat Desain Museum Etnologi Mekongga, Terinspirasi dari Bunga Sorume
Alan Ali (jas hitam) saat mempresentasikan desain Museum Etnologi Mekongga hasil rancangannya. Foto: Istimewa.

Kolaka – Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara (Unusra) bernama Alan Ali yang berasal dari Desa Pelambua, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, membuat sebuah desain Museum Etnologi Mekongga di dalam skripsinya. Desain museum tersebut terinspirasi dari bunga sorume atau anggrek serat yang merupakan flora asli Bumi Mekongga.

Mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur ini mengatakan, keseluruhan ide desain terinspirasi dari sorume atau anggrek serat yang merupakan flora endemik asli Bumi Mekongga. Di mana sampai saat ini, masih banyak generasi muda Mekongga lupa bahkan tidak tahu arti dan sejarah tentang sorume karena tertutupi dengan kakao yang notabene bukan tanaman endemik Sulawesi.

“Konsep desain secara filosofis sangat kuat dipengaruhi oleh sorume, di mana dahulu menjadi benda yang sangat bernilai namun kini cenderung terlupakan oleh serbuan arus globalisasi. Dalam desain ini saya padukan dengan penekanan pada Arsitektur Nusantara, yang saya nilai sangat cocok dengan budaya Mekongga yang selalu menjunjung tinggi toleransi,” katanya kepada Kendariinfo, Selasa (23/8/2022).

Penerapan bunga sorume pada konsep Desain Museum Etnologi Mekongga.
Penerapan bunga sorume pada konsep Desain Museum Etnologi Mekongga. Foto: Istimewa.

Penerapan konsep disalurkan pada bentuk pilar yang menjadi tiang utama dari desain museum tersebut. Bentuk pilar menyerupai mahkota sorume (anggrek serat).

“Pengerjaan animasinya memakan waktu sekitar 8 – 10 jam, tetapi untuk modelling 3D-nya memakan waktu 2 minggu,” tambahnya.

Dengan peralatan sederhana dan kurang memadai, Alan mampu menyelesaikan skripsinya tepat waktu bahkan mendapat nilai yang sangat memuaskan yakni, 92 (A).

Baca Juga:  UM Kendari Raih Penghargaan Pembelajaran Daring Terbaik dari LL Dikti IX

“Berhubung saya kuliah biaya sendiri, jadi semua peralatan yang saya pakai sangat terbatas bahkan bisa dibilang komputer yang saya pakai jauh di bawah spek yang biasa dipakai anak arsitektur, untungnya saya didukung dosen-dosen hebat,” imbuhnya.

Tema musim etnologi diangkat karena Alan ingin pemerintah lebih memperhatikan konsep arsitektur yang akan menjadi bangunan, khususnya bangunan pemerintahan. Dia berharap pemerintah terkait lebih melirik arsitek lokal untuk dilibatkan dalam pembangunan daerah.

Konsep desain Museum Etnologi Mekongga yang dibuat oleh Alan Ali sebagai tugas skripsi.
Konsep desain Museum Etnologi Mekongga yang dibuat oleh Alan Ali sebagai tugas skripsi. Foto: Istimewa.

“Sebagai putra kelahiran tanah Mekongga, saya mengharapkan seluruh stakeholder di Kabupaten Kolaka lebih peka lagi dalam berarsitektur, khususnya untuk bangunan pemerintahan, kita punya jati diri arsitektur lokal yang sangat kuat, hentikan reklamasi, hentikan pembangunan yang memunggungi laut. Tolong perhatikan mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang tidak terdeteksi radar “beasiswa pemda” libatkan mereka dalam membangun kampung halaman, sebelum negara asing yang merebutnya,” tandasnya.

Alan juga berharap suatu saat skripsinya ini bisa dimuat dalam jurnal terakreditasi sehingga bisa dijadikan portofolio untuk lanjut strata 2 (S2) ke luar negeri.

“Rencana mau lanjut keluar negeri, mohon doanya,” pungkasnya.

Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten