Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Mahasiswi UHO Kendari Diserang di Media Sosial Usai Suarakan Penolakan Revisi UU TNI

1
0
Nesya Marsanita, Pendidikan Sejarah, Nur Hayati, Pendidikan Ekonomi, Asmita, Manajemen Bisnis, dan Nursyla, Manajemen Bisnis (masing-masing dari kiri ke kanan) saat aksi penolakan terhadap revisi Undang-Undang (UU) TNI yang digelar di kawasan Perempatan Kampus Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari. Foto: Istimewa. (6/4/2026).

Kendari – Aksi penolakan terhadap revisi Undang-Undang (UU) TNI yang digelar di kawasan Perempatan Kampus Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari pada Senin (6/4/2026) lalu berbuntut perundungan di media sosial.

Salah satu peserta aksi, Nesya Marsanita, mahasiswi UHO Kendari yang juga Sekretaris Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) FKIP, menjadi sasaran komentar bernada pelecehan hingga serangan personal.

Perundungan itu muncul setelah dokumentasi aksi yang diunggahnya bersama tiga rekan lainnya menjadi viral di berbagai platform digital. Unggahan yang awalnya hanya ditujukan sebagai arsip kegiatan tersebut justru memancing beragam reaksi, termasuk komentar negatif dari akun anonim yang diduga buzzer.

“Awalnya saya hanya mengunggah sebagai dokumentasi. Namun keesokan harinya postingan itu viral dan mulai muncul komentar yang menyerang, bahkan sampai tuduhan tidak berdasar dan bernada pelecehan,” kata Nesya, Sabtu (11/4).

Menurutnya, serangan tersebut tidak hanya menyasar pandangannya terkait revisi UU TNI, tetapi juga menyentuh ranah pribadi. Ia menilai respons negatif itu berkaitan dengan masih kuatnya stigma terhadap perempuan yang aktif menyuarakan isu politik di ruang publik.

Ia menuturkan, keterlibatan perempuan dalam aksi massa kerap dipandang tidak lazim oleh sebagian pihak. Akibatnya, ketika perempuan tampil menyampaikan kritik politik, fokus perdebatan justru bergeser ke aspek personal.

“Perempuan yang terlibat dalam aksi seperti ini masih sering dipandang sebelah mata. Ketika ada yang tidak setuju dengan pandangan saya, yang diserang justru pribadi, bukan argumen,” ujarnya.

Nesya menilai kehadiran perempuan dalam isu politik justru membuat pesan lebih cepat mendapat perhatian. Namun di sisi lain, hal itu juga meningkatkan potensi serangan personal, terutama di media sosial.

Dampak perundungan tersebut juga dirasakan oleh keluarganya. Ia mengungkapkan sang ibu sempat merasa khawatir dan terus menghubunginya karena takut ancaman di dunia maya berlanjut ke tindakan nyata. Meski demikian, Nesya memastikan dirinya dalam kondisi aman dan mendapat pendampingan dari aliansi BEM Fakultas.

Terkait langkah selanjutnya, ia berencana melaporkan dugaan pelecehan digital tersebut kepada pihak berwenang serta menyampaikannya kepada pihak kampus. Saat ini, pendampingan masih dilakukan secara internal oleh aliansi mahasiswa.

Di tengah situasi tersebut, Nesya mengajak mahasiswi lain untuk tidak gentar menyuarakan pendapat, termasuk dalam isu politik seperti revisi UU TNI.

“Jangan takut menyampaikan suara. Tekanan di media sosial tidak boleh menghentikan upaya kita memperjuangkan hal yang dianggap benar,” tutupnya.

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: