Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Melihat Keindahan Wisata Mata Air Panas yang Lagi Hits di Kolaka

Melihat Keindahan Wisata Mata Air Panas yang Lagi Hits di Kolaka
Hamparan sulfur berwarna kekuningan menghiasi bibir kawah mata air panas di Desa Ulu Konaweha, Kecamatan Samaturu, Kolaka. Foto: Ashabul.

Kolaka – Objek wisata alam di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) memang tak pernah ada habisnya untuk dibahas. Anda yang mencintai jelajah alam dan mencintai tantangan, daerah yang satu ini mungkin menjadi pilihannya.

Baru-baru ini, ada sebuah kawasan wisata alam yang jadi perbincangan hangat di media sosial. Apalagi kalau bukan kemunculan mata air panas yang terletak di Dusun Lakuiya, Desa Ulu Konaweha, Kecamatan Samaturu, Kolaka. Objek wisata alam ini belum banyak yang mengunjunginya, selain baru ditemukan, akses menuju kawasan air panas masih cukup sulit. 

Objek wisata alam air panas ini berada di tengah hutan belantara Kolaka. Kawasan ini berbentuk kolam bulat dengan ketinggian air yang cukup. Di tengah kolam terdapat semburan air bergelembung putih yang cukup besar. Wisatawan yang mengunjungi tempat itu akan merasakan hawa panas air yang menyembur keluar dari mata air.

Semburan air dari mata air panas Desa Ulukonaweha, Kecamatan Samaturu, Kolaka.
Semburan air dari mata air panas Desa Ulu Konaweha, Kecamatan Samaturu, Kolaka. Foto: Ashabul.

Di tempat ini juga tampak keeksotisan dengan keberadaan hamparan sulfur atau belerang kurang lebih satu hektare yang terbentuk secara alami dari proses alam. Sebenarnya, di Indonesia sendiri tidak perlu susah mencari kawasan wisata air panas, karena Indonesia memiliki banyak wisata air panas alami. Salah satu alasannya karena memiliki banyak gunung aktif dan rata-rata mengandung sulfur atau belerang. 

Selain itu ternyata banyak manfaat yang terkandung baik untuk kesehatan tubuh manusia. Nah, hampir di setiap daerah memiliki sulfur, namun tidak semua bisa dijadikan kawasan wisata. Di tempat ini Anda bisa menikmati langsung hamparan sulfur bermotif abstrak ini.

Sedangkan untuk air panas yang dihiasi sulfur di tempat ini baru saja ditemukan dan belum banyak literasi terhadap objek wisata tersebut. Media sosial juga sempat dihebohkan dengan kejadian unik di mana salah satu titik mata air panas tersebut bisa mengeluarkan air dengan volume lebih keras jika menyampaikan kalimat menggunakan bahasa daerah setempat yaitu Tolaki.

Baca Juga:  Pemilihan Duta Wisata Nasional, Sultra Rebut Juara 3

Tampak beredar di media sosial seorang pria yang tengah berada di atas sulfur yang sudah mengeras. Pria tersebut menyatakan bahwa air akan keluar dari sela-sela sulfur saat disebutkan menggunakan bahasa daerah. Nah, saat pengunjung tersebut berteriak menggunakan bahasa daerah, ternyata air terdengar keras keluar dari sela-sela sulfur yang mengeras.

Daun kering tampak membatu akibat terkena sulfur mata air panas di Desa Ulukonaweha, Kecamatan Samaturu, Kolaka.
Daun kering tampak membatu akibat terkena sulfur mata air panas di Desa Ulu Konaweha, Kecamatan Samaturu, Kolaka. Foto: Ashabul.

Air yang keluar lebih deras lagi saat pengunjung tersebut meneriaki menggunakan bahasa daerah tadi. Namun tiba-tiba air itu berhenti usai diminta berhenti menggunakan bahasa daerah tersebut. Orang-orang yang penasaran dengan kejadian tersebut lalu mengunjunginya untuk menyaksikan secara langsung.

“Saya pertama ke sana karena penasaran dengan informasi di media sosial ada air panas yang keluar dari balik belerang dengan deras saat menyebut kalimat menggunakan bahasa daerah. Nah saya penasaran, saya datangi, ternyata airnya sudah kering dan tidak mengeluarkan air lagi,” kata seorang pejalan asal Kolaka Timur, Fitria Hafizh kepada kendariinfo, Minggu (12/3/2023).

Ternyata titik air muncul lagi tidak jauh dari titik awal. Di titik ini, air menyembur cukup besar sehingga berbentuk sebuah kawah kecil dengan kedalaman yang cukup. Sehingga tempat tersebut kian heboh. Banyak orang-orang kemudian mengunjungi tempat tersebut untuk menikmati keindahan alam tersebut.

Seperti diketahui, tempat ini awalnya merupakan kawasan perkebunan warga yang ditumbuhi pepohonan, namun karena mata air panas muncul mengakibatkan pepohonan mati dan menjadi ladang sulfur. Kawasan hutan belantara tampak terlihat di pinggir kawah mata air yang ditumbuhi banyak pepohonan. 

Oh iya, akses menuju tempat ini terbilang cukup jauh dari jalan poros yang mencapai 14 kilometer dengan jarak tempuh hingga berjam-jam. Selain jauh, fasilitas jalanan juga belum cukup memadai. Melihat adanya potensi wisata alam itu, ternyata membuat pemerintah setempat sadar dan mencoba membuat terobosan jalan ala kadarnya. Jalan ke tempat ini masih merupakan tanah yang dikeruk dan dilakukan pengerasan menggunakan alat berat.

Baca Juga:  Prodi Teknologi Laboratorium Medis UMW Kendari Raih Akreditasi Unggul Pertama di Sultra

“Jalannya masih tanah. Kalau musim hujan ya pasti berlumpur jadi mesti harus memiliki skill yang cukup kalau mau melintas. Paling cocok pakai motor trail karena kalau motor biasa itu agak susah. Waktu saya ke sana, motorku rusak-rusak,” ungkap dia.

Selain akses tersebut, ada satu cara lagi untuk bisa mencapai kawasan wisata mata air panas yakni menggunakan kapal nelayan setempat dengan menantang arus sampai di kawasan pembuangan mata air. Akan tetapi akses ini masih membutuhkan waktu beberapa lama lagi karena cukup jauh dengan titik air panas. 

Melalui akses ini, wisatawan akan menemukan lebih dari batuan kapur yang sangat cantik. Batuan kapur itu diduga sudah mengendap dalam jangka waktu yang lama. Berbeda dengan akses jalan tadi yang bisa langsung memarkirkan kendaraannya di pinggir kawasan kawah mata air panas.

Karena masih terbilang cukup baru, jadi deretan objek wisata lainnya membuat fasilitas umum belum bisa diandalkan. Pihak pengelola masih sementara berbenah dan baru mendirikan satu buah pondokan untuk digunakan beristirahat oleh pengunjung. Banyak wisatawan yang datang ke tempat ini dengan mengabadikan momen dengan swafoto.

Melihat akses jalan yang belum memadai dan jaraknya cukup jauh dari jalan poros, wisatawan yang mengunjungi mata air panas ini diwajibkan membawa perbekalan yang cukup.

Oh iya, untuk menikmati tempat ini bisa setiap saat dan pastinya tanpa ada retribusi alias gratis.Tapi tetap jaga kebersihan dan kesopanan saat berkunjung ke mata air panas ini. Yuk, sisihkan dan agendakan waktu Anda untuk menikmati tempat ini, bisa bersama keluarga, sahabat dan orang terkasih lainnya. Selamat berlibur di akhir pekan.

Nah sekarang Makin Tahu Indonesia kan!!

Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten