Melihat Masjid Tertua di Pulau Buton, Beratapkan Kulit Kayu Jati
Buton Selatan – Sederhana, namun tetap terjaga keasliannya. Seperti itulah bentuk Masjid Wawoangi, masjid yang disebut-sebut sebagai masjid tertua di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kali ini Jurnalis Kendariinfo berkesempatan menyambangi salah satu saksi penyebaran Islam di Sultra itu, Kamis (31/12/2020).
Siapa yang menyangka, bangunan masjid tertua di Pulau Buton itu sangat jauh berbeda dengan masjid pada umumnya. Fondasi masjid dibuat dari batu-batu bukit, dan dindingnya dari bambu-bambu kecil yang disusun berdiri. Bambu kecil itu tampak diikat dengan ijuk pepohonan. Sementara atap dibuatkan dari kayu jati yang tipis. Tampak seperti rumah tak berpenghuni bukan?
Lokasi masjid itu berada di sebuah bukit Desa Wawoangi, Kecamatan Sampolawa. Dari pemukiman warga, Masjid Wawoangi berjarak kurang lebih lebih 2 km. Meski jalannya rusak dan berbatu, masjid tua itu bisa diakses menggunakan kendaraan roda dua.
Kepada kami, Kepala Desa Wawoangi, La Ode Abdul Halim mengatakan masjid tersebut merupakan masjid pertama di Sultra dan dibangun oleh Syekh Abdul Wahid tahun 1527 M.
”Syekh Abdul Wahid melihat cahaya di langit turun di Wawoangi. Makanya masjid dibangun di tempat itu,” katanya.
Halim juga menyebutkan, sejak awal didirikan hingga sekarang bangunan masjid tidak pernah diubah.
“Dari dulu sudah seperti itu bentuknya, tetap dijaga kealamian bangunan masjid ini, model bangunan ini sejak tahun 1527 dan sudah satu kali dilakukan renovasi atas masjid ini. Atapnya pernah kami ganti dengan atap sirap, namun ada warga yang seperti kemasukan leluhur agar atapnya diganti dengan kayu jati. Makanya atapnya kami ganti kayu jati seperti awalnya,” ungkapnya.
Selain itu, tepat di depan pintu masuk masjid ada beberapa makam tua. Makam tersebut adalah makam Sultan Buton ke IV, La Elangi bersama keluarganya dan Sultan Buton ke VII, La Saparagau.
“Itu makam Sultan Buton ke VII, La Saparagau. Terus ada makam Sultan Buton ke IV, La Elangi isinya ada tujuh orang. Jadi ceritanya saat La Elangi meninggal ada enam pengikutnya meminta dikuburkan hidup-hidup,” tutupnya.
