Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Melihat Tradisi Masyarakat Kahedupa Merawat Gotong Royong dengan Cara Menombak Tebu

0
0
Para pemuda Kahedupa yang terpilih melaksanakan pesta budaya tengah bersiap menjalankan tradisi Hepontuda'a. (27/10/2022). Foto: Sekretariat Barata Kahedupa.

Wakatobi – Sejak zaman dahulu, semua masyarakat adat di Indonesia memiliki ragam tradisi. Tradisi dalam adat istiadat tetap dipertahankan sebagai penanda identitas masyarakat. Begitu pula dengan tradisi Hepontuda’a masyarakat Kahedupa, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) yang ternyata sudah hadir sejak ratusan tahun lalu.

Hepontuda’a merupakan tradisi masyarakat Kahedupa dalam melakukan aksi sosial gotong royong di zaman kerajaan terdahulu. Tradisi ini muncul dalam dekade waktu yang cukup lama saat Kahedupa masih dalam sistem kerajaan atau Barata. 

Tradisi Hepontuda’a ini dilakukan dengan cara menombak tebu yang sudah tersusun rapi. Kemudian tebu tersebut ditombak oleh pria yang disebut dengan Porimbi-rimbi. Uniknya, dalam tradisi ini diharuskan ditonton oleh para gadis. Para gadis-gadis akan duduk tidak jauh dari para pria yang akan menombakkan kayu ke arah tebu.

Para pemuda Kahedupa yang terpilih melaksanakan pesta budaya tengah bersiap menjalankan tradisi Hepontuda’a. (27/10/2022). Foto: Sekretariat Barata Kahedupa.

Kemudian, para pria yang sudah dipilih untuk menjalankan tradisi tersebut agar mengeluarkan gaya terbaiknya sebelum menombak. Tebu-tebu yang tersusun akan ditombak oleh para pria. Ditargetkan penombakan dalam tradisi tersebut agar tebu yang sudah disusun harus kena dan patah. 

Jika keduanya terjadi, maka para penombak akan mendapatkan apresiasi dari para gadis dan warga setempat. Dalam aturan mainnya, para penombak akan berdiri dengan jarak yang telah ditentukan oleh panitia. Tradisi ini diawali dengan pesta adat setempat. 

“Tebu ini dipasang dulu di depan, lalu ditombak dengan jarak kesepakatan 3 atau 5 meter dan disaksikan oleh gadis-gadis. Sebelum menombak mereka bergaya dulu dengan memutar mencari gaya. Kalau kena dan patah, semua tepuk tangan,” kata Sekretaris Penyelenggaraan Tradisi Hepontuda’a Ma’ruf Ode kepada Kendariinfo, pada Selasa (18/10/2022).

Tombak yang digunakan para pria berasal dari kayu khusus yang masyarakat setempat menyebutnya kayu Tokkulo. Tebu yang sudah tersusun akan ditombak dari kayu Tokkulo tersebut. Ma’ruf mengungkapkan dalam rangkaian tradisi ini hanya boleh dilakukan oleh para muda-mudi.

“Tebu-tebu disusun di depan kemudian pria dengan memegang tongkat yang berasal dari kayu Tokkulo. Nanti yang menombak dipilih harus anak-anak muda,” bebernya.

Para pemuda Kahedupa yang terpilih melaksanakan pesta budaya tengah bersiap menjalankan tradisi Hepontuda’a. (27/10/2022). Foto: Sekretariat Barata Kahedupa.

Ma’ruf mengungkapkan tradisi tersebut bermula saat pembangunan pertama kali masjid di Kahedupa yang diberi nama Masjid Ahmadi Bente. Saat itu, masjid tersebut dibangun oleh orang-orang tua desa setempat dan terbengkalai. Kemudian pihak kerajaan memerintahkan para muda-mudi untuk melanjutkan pengerjaan masjid tersebut agar cepat berdiri kokoh.

Berbagai kendala terbengkalainya pembangunan masjid tersebut oleh para orang tua salah satunya pembangunan terletak di atas perbukitan. Maka raja saat itu menginstruksikan para muda-mudi untuk kembali melakukan pembangunan.

Maka setelah mendapatkan instruksi itu, pembangunan kembali dilanjutkan. Semua keperluan pembangunan masjid tersebut diangkut para muda-mudi mulai dari air, bahan baku hingga peralatan pembangunan. Saat pengerjaan itu dilakukan kembali, mereka berinisiatif untuk sambil bercanda agar tetap semangat bekerja dan terasa ringan.

“Ini dilakukan untuk muda-mudi saja, karena posisi masjid waktu itu cukup tinggi. Di sana sumber air jauh, bahan bakunya ambil dari bawah jadi batu-batu kita angkat semua. Nah, sambil bekerja sambil bermain untuk menambah semangat,” beber dia.

Maka, digunakanlah tanaman tebu yang banyak tumbuh liar di Kahedupa. Selain itu, konsumsi untuk mengerjakan bangunan masjid cukup minim, sehingga tebu bisa dikonsumsi. Jadi, selain dipakai bermain, tebu juga dikonsumsi agar bisa menambah energi saat bekerja.

Para pemuda Kahedupa yang terpilih melaksanakan pesta budaya tengah bersiap menjalankan tradisi Hepontuda’a. (27/10/2022). Foto: Sekretariat Barata Kahedupa.

Masih dalam proses pengerjaan masjid itu, tebu-tebu digunakan para pemuda untuk mengadu ketangkasan. Mereka juga akan semangat karena akan disaksikan para gadis yang tengah membantu melakukan pekerjaan pembangunan masjid.

“Nah, di sini kan banyak tebu. Karena logistik kurang, jadi diambillah tebu-tebu itu. Mereka bisa makan sambil bermain. Tebu juga ini sebagai penambah energi. Tebu ini kan kecil dan panjang, bisa dipakai adu ketangkasan. Jadi dipakai menombak tebu,” ujar dia.

Akhirnya, tradisi tersebut terus digaungkan oleh masyarakat setempat. Sehingga ketika tradisi tersebut dilakukan, maka pertanda masyarakat diminta untuk melakukan aksi gotong royong. Tradisi itu kemudian meluas tidak hanya untuk membangun masjid, tapi juga berbagai kegiatan seperti membangun rumah adat setempat hingga dalam proses perkawinan.

“Jadinya tradisi ini sebagai pemantik semangat. Jadi kalau ada Hepontuda’a itu berarti ada yang dikerjakan di kampung ada kegiatan adat besar. Oh, jadi gotong royong sudah dimulai lagi,” ungkap dia.

Namun ternyata tradisi tersebut sempat vakum sampai pada Minggu (16/10/2022) mulai dilaksanakan sejak terakhir pada tahun 1986 silam. Ma’ruf bersama muda-mudi masyarakat Kahedupa berinisiatif membangkitkan kembali semangat gotong royong saat rangkaian Milad Barata Kahedupa ke-762.

Masyarakat Kahedupa berencana melestarikan kembali tradisi tersebut dengan agenda membangun rumah adat setempat yang sudah rusak. Mereka akan memulai pembangunan dengan melaksanakan tradisi Hepontuda’a.

“Kami muda-mudi di sini akan mengaktifkan dan melestarikan kembali tradisi Hepontuda’a ini karena sudah lama tidak aktif. Kami akan memulai dengan dengan agenda membangun rumah adat yang sudah rusak. Karena terakhir tradisi ini digaungkan di tahun 1986. Itu pun dilakukan saat pesta-pesta perkawinan,” ujar dia.

Para pemuda Kahedupa yang terpilih melaksanakan pesta budaya tengah bersiap menjalankan tradisi Hepontuda’a. (27/10/2022). Foto: Sekretariat Barata Kahedupa.

Dengan diaktifkan kembali tradisi tersebut, Ma’ruf bersama masyarakat Kahedupa memiliki harapan besar agar tradisi tersebut kembali muncul di tengah-tengah masyarakat modern. Masyarakat ingin agar tradisi gotong royong ini bisa diperkuat lagi.

“Satu Kahedupa tahu tentang tradisi ini. Harapan kami agar tradisi ini bisa dilestarikan kembali seperti zaman-zaman terdahulu. Kami juga ingin agar semangat gotong royong ini bisa terus muncul di masyarakat Kahedupa,” pungkasnya.

Editor Kata
Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: