Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Kendari

Minyak Nilam Tak Stabil, Pemprov Sultra Dorong Kebijakan Harga Dasar

Minyak Nilam Tak Stabil, Pemprov Sultra Dorong Kebijakan Harga Dasar
Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, La Ode Muhammad Rusdin Jaya. Foto: Hasmin Ladiga/Kendariinfo. (10/7/2025).

Kendari – Harga jual minyak nilam yang terus bergejolak menjadi persoalan serius bagi petani di Sulawesi Tenggara (Sultra). Kondisi itu mendorong Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra meminta pemerintah pusat untuk segera menetapkan harga dasar guna memberikan jaminan perlindungan pendapatan bagi para petani.

Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, La Ode Muhammad Rusdin Jaya menjelaskan, selama ini petani kerap menjadi korban dari ketidakstabilan harga pasar. Bahkan, nilai jual minyak nilam pernah mencapai Rp2,5 juta per kilogram, namun anjlok drastis menjadi Rp650 ribu.

“Fluktuasi harga ini banyak dipengaruhi oleh permainan pengepul dan perantara dari negara pembeli seperti India dan Prancis. Tanpa adanya harga dasar, petani tidak memiliki kepastian,” ujar Rusdin, Kamis (10/7/2025).

Ia menilai, sebagaimana komoditas strategis lain seperti gabah, jagung, dan ubi yang sudah memiliki harga dasar, minyak nilam pun layak mendapat perlindungan serupa. Terlebih lagi, potensi sektor itu di Sultra dinilai sangat menjanjikan.

Pada 2024, Konawe Utara (Konut) tercatat sebagai daerah dengan luas panen nilam terbesar di Sultra, yakni mencapai 1.912 hektare dengan estimasi produksi 350 ton. Namun saat ini, tren pertumbuhan tanaman nilam mulai bergeser ke wilayah Konawe Selatan (Konsel) serta daerah kepulauan seperti Muna, Muna Barat (Mubar), dan Baubau.

“Luas areal dan produksi nilam kita terus bertambah, tetapi harga yang tidak stabil membuat petani enggan mengembangkan lebih jauh,” katanya.

Baca Juga:  Bantu UMKM, Kendari Preneur Gelar Bazar Festival Ramadhan

Untuk itu, Pemprov Sultra tidak hanya fokus pada perluasan sentra produksi, tetapi juga membenahi dari hulu ke hilir. Salah satunya adalah meningkatkan kualitas budi daya dan pengolahan pasca-panen, agar produk yang dihasilkan memenuhi standar ekspor.

Langkah-langkah yang ditempuh antara lain edukasi teknis kepada petani untuk meninggalkan cara-cara lama dalam menanam dan memanen nilam. Misalnya, dalam penyimpanan minyak atsiri, masih banyak yang menggunakan drum biasa yang tidak higienis. Ke depan, pemerintah akan mendorong penggunaan tangki stainless steel agar kualitas minyak tetap terjaga.

Dinas Perkebunan juga menyarankan petani menerapkan sistem tumpang sari seperti menanam nilam di sela tanaman jagung dan menjaga jarak tanam agar produktivitas lebih efisien.

Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten