Nelayan Binaan Aruna di Pesisir Wakatobi Terima Sertifikat Tanah dari Presiden

Wakatobi – Nelayan pesisir di Desa Mola Samaturu, Kecamatan Wangiwangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra) tampak berbahagia usai menerima sertifikat pemberdayaan tanah di atas laut dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Kamis (9/6/2022).
Salah seorang nelayan penerima sertifikat bernama Usri (39) menyampaikan rasa bahagianya usai menerima sertifikat tanah.
Pria yang memiliki tiga anak itu menjadi salah satu warga yang menerima sertifikat pemberdayaan tanah masyarakat di atas laut secara langsung dari Presiden.

Bagaimana tidak, setelah hampir 30 tahun menjadi seorang nelayan, untuk pertama kalinya ia dapat memiliki sertifikat tanah sendiri.
“Perasaan saya sangat senang, akhirnya bisa memiliki sertifkat tanah sendiri. Rasa bangga juga karena Pak Presiden langsung yang memberikannya,” ujarnya saat ditemui awak media.
Usri menuturkan, kepemilikan sertifikat tanah ini tidak lepas dari perpanjangan tangan Aruna. Aruna sendiri adalah startup e-commerce perikanan Indonesia yang menyediakan platform lelang ikan digital, serta pasar untuk produk makanan laut.
“Terima kasih juga kepada Aruna sudah memperjuangkan kepemilikan sertifikat tanah ini untuk kami para nelayan di Desa Mola Samaturu,” ucapnya.

Ia menceritakan, setiap kali turun ke laut untuk menangkap ikan, dirinya bisa membawa pulang setidaknya 30 kilogram ikan tuna, kemudian menjualnya di pasar yang ada di Kabupaten Wakatobi. Pengetahuan akan potensi pasar yang lebih besar sama sekali tidak diketahuinya.
Namun, setelah menjadi nelayan binaan Aruna sejak tahun 2021, kini ia semakin mengetahui betapa besarnya potensi pasar dari ikan-ikan hasil tangkapannya.
Setelah mendapat sertifikat tanah, Usri berencana akan mempergunakannya untuk keperluan pengembangan peralatan kapal dan juga biaya pendidikan anak-anaknya.
“Saya jadi lebih semangat lagi untuk bekerja. Sertifikat ini rencananya akan saya gadaikan untuk membeli mesin perahu yang lebih bagus, dan juga untuk biaya sekolah anak,” ungkapnya.
Terlepas dari itu semua, ada sosok yang patut diberi apresiasi akan pengembangan kemampuan para nelayan di Pesisir Wakatobi. Ia adalah Laode Muhammad Alfan (36), orang yang pertama kali memperkenalkan para nelayan dengan Aruna dan sebagai kepala koordinator.
Alfan mengatakan, bantuan sertifikat tanah sangatlah tepat. Sebab, tujuan dari bantuan tersebut adalah peningkatan kapasitas para nelayan pesisir dalam melaut.
“Hasil diskusi dengan teman-teman nelayan memang sertifikat ini sangatlah mereka butuhkan, karena ini merujuk pada peningkatan kapasitas mereka ketika melaut, misalnya memenuhi kebutuhan alat tangkapnya dan peralatan lainnya mereka bisa dengan adanya bantuan ini,” tuturnya.
Hingga saat ini, setidaknya sudah 80 nelayan di wilayah pesisir Kabupaten Wakatobi yang dibagi ke dalam lima kelompok untuk tergabung dalam pembinaan Aruna.
“Sekarang sudah ada 80 nelayan yang bergabung bersama kami. Para nelayan binaan Aruna ini ada yang di Wanci, Kaledupa, Mola, Pulau Kapota, dan Desa Polo,” jelas Alfan.
Ia berharap, program-program Aruna dapat terus berkelanjutan karena dengan begitu para nelayan di desa Bajo Wakatobi memiliki kualitas yang bisa memicu pertumbuhan ekonomi mereka.
“Pasti saya berharap program-program Aruna terus ada, terus berlanjut agar para nelayan dapat memiliki kapasitas serta kualitas, yang mana itu bisa bermanfaat bagi mereka khususnya dari segi pertumbuhan ekonomi mereka,” pungkasnya.





