Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Muna

Pemandangan Siswa Kasakamu, Muna Barat, Lewati Genangan Air untuk Sekolah

0
0
Seorang anak digendong melintasi jalan tergenang air di Desa Kasakamu, Kecamatan Kusambi, Muna Barat. Foto: La Ode Muhamad Aslam/Kendariinfo. Sabtu (19/4/2025).

Muna Barat – Siswa di Desa Kasakamu, Kecamatan Kusambi, Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara (Sultra), harus melewati genangan air untuk ke sekolah, Sabtu (19/5/2024) pagi. Para siswa terpaksa melewati genangan air usai jalan penghubung Desa Kasakamu dan Lapokainse terputus.

Jalan putus tergenang air terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Kecamatan Kusambi pada Jumat (18/4) malam. Namun, genangan air bukanlah hal baru bagi warga. Warga Desa Kasakamu, Sari, menyebut kondisi itu sudah menjadi pemandangan rutin.

“Kalau hujan lebat, air bisa sampai pinggang anak sekolah dasar (SD). Kadang juga hampir menyentuh sadel motor,” ujar Sari saat ditemui Kendariinfo, Sabtu (19/4).

Sari menjelaskan genangan air bisa muncul hanya dalam waktu 30 menit setelah hujan turun, dan butuh berjam-jam untuk benar-benar surut. Anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling terdampak. Mereka terpaksa melepas sepatu, menggulung celana, bahkan membuka baju demi bisa melintasi jalan tanpa terlalu basah.

Bagi anak-anak yang tidak diantar orang tuanya, itu berarti harus menerima risiko berangkat sekolah dengan pakaian basah. Kondisi jalan tersebut sudah berlangsung lebih satu dekade. Selama itu pula belum ada perhatian signifikan dari pemerintah daerah.

“Jalan itu pernah ditinjau pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), tetapi sampai sekarang belum ada tindak lanjut,” keluh warga Desa Kasakamu lainnya, Isdan.

Meski waswas, para orang tua tetap mendorong anak-anak mereka untuk bersekolah. Harapan akan masa depan lebih baik menjadi alasan utama mereka tak menyerah menghadapi situasi.

“Mau tidak mau harus dilalui. Masa depan mereka lebih penting,” kata Wa Ode Uli sambil menggendong anaknya menyeberangi genangan air.

Uli berharap pemerintah daerah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki jalan tersebut. Bagi mereka, ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi menyangkut hak anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa harus bertaruh keselamatan setiap musim hujan tiba.

“Takutnya anak-anak SD itu pulang sekolah melewati jalan tanpa pengawasan orang tua. Kami khawatir mereka tenggelam, karena di samping jalan itu airnya dalam. Dulu tanah di situ pernah digali untuk ambil bahan batu merah,” pungkasnya.

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: