Pemilik TRG Kendari Bantah Telantarkan Jemaah Umrah: Hanya Transit

Kendari – Pemilik Tajak Ramadhan Grup (TRG) Kendari, Hamra, membantah pihak agen perjalanan menelantarkan jemaah umrah asal Sulawesi Tenggara (Sultra). Hamra menyebut keluhan jemaah soal ketidakpastian jadwal kepulangan ke Indonesia hanya proses transit.
“Kami tidak menelantarkan jemaah. Kami hanya melakukan transit untuk melanjutkan perjalanan,” ujar Hamra, Sabtu (14/2/2026).
Ia juga membantah kabar pihaknya melarikan diri dan tidak merespons keluhan jemaah. Hamra mengaku saat ini berada di Jakarta untuk menjemput jemaah. Dari Jakarta, jemaah akan melanjutkan perjalanan ke Kota Makassar untuk berkumpul dan sama-sama bertolak ke Kota Kendari.
“Saya pertegas, sampai detik ini telepon genggam saya aktif. Saya tidak memutuskan komunikasi dengan para jemaah,” tegasnya.
Namun, cerita keluarga jemaah berbeda. Jemaah kebingungan di bandara tanpa kejelasan jadwal keberangkatan. Beberapa di antaranya harus mencari bantuan sendiri, meminjam uang kerabat, bahkan menahan lapar, karena keterbatasan uang.
Kondisi itu memicu kemarahan keluarga jemaah. Pria berinisial US (33), warga Kabupaten Kolaka, yang keluarganya menjadi bagian dari rombongan jemaah umrah mengaku telah berulang kali mencoba menghubungi agen perjalanan, tetapi tidak mendapat respons.
“Sudah hilang kontak, susah dihubungi. Saya saja diblokir,” ujar US kepada Kendariinfo, Rabu (11/2).
US menceritakan dua anggota keluarganya berangkat umrah pada Januari 2026. Bukan hanya keluarganya, hampir 50 orang tetangganya ikut dalam rombongan yang sama, ditambah jemaah lain dari berbagai wilayah di Sultra.
Di Jakarta, jemaah sempat diminta membayar tambahan biaya dengan alasan pengurusan visa keberangkatan. Sebagian jemaah yang visanya lebih dulu terbit diberangkatkan, sedangkan sisanya menunggu tanpa kepastian. Jemaah menginap seadanya dengan biaya hidup yang terus berjalan. Jemaah yang diberangkatkan melalui Malaysia juga dikabarkan sempat terlantar, karena biaya hotel belum dibayarkan.
Ketika di Makkah, makan dan akomodasi jemaah juga tak menentu. Saat kepulangan tiba, sebagian jemaah tidak memiliki tiket. Jemaah yang pulang melalui Singapura harus menunggu di Bandara Internasional Changi tanpa kepastian.
Demi bisa kembali ke Tanah Air, jemaah meminjam uang dan meminta bantuan keluarga. US mengaku mengirimkan uang hingga Rp20 juta untuk membeli tiket dari Makkah dan Jakarta serta kebutuhan makan selama menunggu kepulangan.
“Keluarga kami berangkat dengan niat ibadah. Namun, yang mereka rasakan justru ketakutan dan kebingungan,” pungkasnya.





