Pemuda Sultra Raih Top 10 Sayembara Nasional Rancang Museum dan Monumen Bahasa

Kendari – Arsitek muda asal Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Muh. Irsyad (23) tampaknya sedang gencar mengasah kemampuannya. Setelah berhasil meraih sepuluh besar dalam sayembara nasional mendesain rumah murah untuk masyarakat berpenghasilan rendah beberapa bulan lalu, kini Irsyad kembali menorehkan prestasinya. Baru-baru ini dia merebut posisi top 10 merancang bangunan museum dan monumen bahasa di Kota Pekanbaru, Riau.
Hasil rancangan pemuda lulusan Universitas Halu Oleo (UHO) ini masuk dalam top 10 bersama timnya dari 98 peserta. Aris Munandar, Muh Irsyad, Hansen Hardiawan, Olivia Gunawan, Christofer Rendy, Jovita, dan Amelia.
“Jadi kami ada tujuh orang, seleksi tahap satu pemilihan sepuluh besar, dan yang masuk sepuluh besar melakukan persentase di Pekanbaru senin kemarin,” kata Irsyad, Selasa (30/11/2021).

Adapun kriteria penilaian rancangan museum dan monumen bahasa tersebut terbagi dalam tiga penilaian, yakni perencanaan dan rancangan, elemen pemanfaatan kawasan, dan ekspresi rancangan.
Salah satu acuan dari kriteria penilaian untuk perencanaan dan rancangan, berkonsep cerminan rancangan identitas Bahasa Melayu pada Bahasa Indonesia. Kemudian elemen pemanfaatan kawasan, yakni dengan perencanaan orientasi terhadap keseragaman/konektivitas dengan lingkungan sekitar. Serta penilaian untuk ekspresi rancangan, bersifat monumental yang dapat menarik perhatian masyarakat.
Pria kelahiran Konawe Utara ini mengakui, dirinya bersama beberapa arsitek kolaborasinya menghadapi pesaing-pesaing berkompeten.
“Kompetisinya cuma sampai top sepuluh sih, soalnya saingannya arsitek-arsitek ternama Indonesia, dan yang paling muda juga kami. Jadi secara pengalaman masih kurang kalau dari mereka,” ucapnya.

Dengan raihan tersebut, Irsyad berharap agar dirinya dapat memotivasi anak muda di Sultra untuk berkarya terutama orang-orang yang menggeluti dunia arsitektur.
“Ayo, kita bisa bersaing dengan arsitek luar. Karena di waktu sekarang ini, saya melihat turunnya minat arsitektur khususnya di Sultra untuk berkompetisi, apalagi mahasiswa,” pungkasnya.





