Pengusaha UMKM Kendari Keluhkan Kelangkaan Susu Full Cream, Stok Diduga Diborong untuk MBG

Kendari – Sejumlah pengusaha usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), mengeluhkan kelangkaan susu full cream di pasaran dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini dinilai mulai mengganggu aktivitas produksi harian, terutama bagi pengusaha minuman yang bergantung pada bahan tersebut.
Salah satu pengusaha UMKM jalanan di Kendari, Taufan (33), mengaku kesulitan mendapatkan stok susu full cream di toko maupun distributor langganannya selama kurang lebih satu minggu pada Maret 2026.
“Pertengahan bulan puasa sampai mendekati Lebaran itu kosong. Merek yang biasa saya pakai, Diamond Milk UHT, saat kami hendak berbelanja di toko grosir, baik Indogrosir maupun toko grosir lainnya, semuanya kosong,” ujarnya kepada Kendariinfo, Rabu (25/3/2026).
Menurutnya, kelangkaan susu full cream diduga karena banyaknya stok yang terserap untuk kebutuhan program makanan bergizi gratis (MBG).
“Sudah dihabiskan untuk MBG. Bahkan merek lain juga kosong. Kami sudah tanya ke distributor, katanya stok diborong untuk kebutuhan MBG,” ungkapnya.
Akibat kelangkaan tersebut, ia dan beberapa pengusaha UMKM lainnya terpaksa tidak berjualan karena bahan tersebut merupakan komponen utama dalam racikan minuman yang mereka produksi.
Hal serupa dialami pengusaha UMKM di Kendari lainnya, Wardin. Ia mengaku kesulitan mendapatkan susu full cream sejak awal Maret 2026.
“Langka susu UHT. Sudah hampir dua minggu saya belum dapat,” ucapnya.
Ia mengatakan telah mencari susu full cream di sejumlah toko grosir, namun hingga kini stoknya masih kosong. “Sekarang juga belum dapat. Saya sudah cari di Indogrosir, Indomaret, Sanya Swalayan, Sukses Jaya, dan beberapa toko lain yang biasa menjual UHT,” pungkasnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi, salah satu karyawan GarudaFood di Kendari yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa stok susu full cream saat ini masih kosong.
“Stoknya masih kosong,” singkatnya, Jumat (27/3).
Merespons hal tersebut, Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Regional Sultra, Maharanny Puspaningrum, menjelaskan bahwa susu bukan termasuk komponen wajib dalam program MBG.
Namun, karena tingginya antusiasme masyarakat untuk menerima susu, komponen tersebut tetap diupayakan untuk diberikan kepada para penerima manfaat.
“Terkait penggunaan susu ini, pimpinan BGN (Badan Gizi Nasional) sudah menyampaikan secara umum bahwa susu bukan komponen wajib dalam MBG. Namun, karena besarnya antusiasme masyarakat untuk menerima susu dalam pelayanan MBG, maka tetap diupayakan untuk diberikan, meski bukan sebuah kewajiban,” katanya kepada Kendariinfo, Jumat (27/3).
Terkait hal tersebut, pihaknya juga tidak memiliki kewenangan untuk mengatur pembelian susu full cream dalam jumlah besar. Namun, berdasarkan informasi yang diterimanya, distributor kini mulai memberlakukan pembatasan pembelian.
“Kami menyesuaikan dengan ketersediaan stok. Sejauh sepengetahuan kami, distributor juga sudah mulai memberlakukan pembatasan pembelian susu,” tuturnya.
Oleh sebab itu, BGN telah berkoordinasi dengan para pelaku industri susu, baik skala besar maupun kecil, guna mengatasi persoalan tersebut, di antaranya dengan mendorong produsen meningkatkan jumlah produksi.
“Untuk pembahasan lebih spesifik ini menjadi ranah pusat. Informasi yang sudah disampaikan adalah produsen akan meningkatkan jumlah produksi,” pungkasnya.





