Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Penjelasan BKSDA Sultra soal Kemunculan Induk dan Anak Anoa di Konawe

0
0
Induk dan anak anoa muncul di kawasan tambang Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Tangkapan layar.

Konawe – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tenggara (Sultra) menjelaskan alasan fenomena kemunculan induk dan anak anoa di kawasan tambang Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe. Kepala BKSDA Sultra, Sakrianto Djawie, mengatakan munculnya dua ekor satwa dilindungi tersebut diabadikan para pekerja tambang di wilayah itu, Minggu (5/6/2022).

“Memang yang rekam video orang-orang yang kerja di situ. Kalau cerita warga, sering lihat anoa. Hanya memang ini viral saja di media sosial,” kata Sakrianto saat ditemui di Kantor BKSDA Sultra, Senin (6/6).

Pada video yang diterima Kendariinfo, dua anoa terlihat muncul di pinggiran hutan dan berjalan beriringan. Induk anoa tampak berwarna hitam pekat sedangkan anaknya berwarna cokelat kekuning-kuningan. Sakrianto menyebut, satwa tersebut merupakan anoa jenis dataran rendah (Bubalus depressicornis). Menurutnya, perbedaan warna induk dan anak anoa karena selisih usia antara keduanya.

“Induknya itu antara empat sampai enam tahun. Sedangkan anaknya kira-kira baru enam bulan sampai satu tahunan. Anoa dataran rendah warnanya memang hitam pekat dan ukuran badannya lebih besar. Sedangkan anoa dataran tinggi atau pegunungan (Babalus quarlesi) warnanya kekuning-kuningan dan ukurannya lebih kecil,” ujarnya.

Sakrianto mengungkapkan, lokasi kemunculan anoa diduga merupakan area jelajahnya. Sebab anoa dikenal sebagai hewan yang suka menjelajah untuk mencari makan dalam kurun waktu tertentu. Meski begitu, BKSDA Sultra belum dapat memastikan lokasi tersebut merupakan habitat anoa. Untuk memastikan hal itu, pihaknya akan membentuk tim inventarisasi agar mengetahui populasi anoa di kawasan tersebut.

“Kemungkinan itu daerah home range atau daerah jelajah. Karena setiap bulan keliling cari makanan. Tapi jumlah populasinya belum bisa kita jawab. Statusnya di sana hutan produksi, bukan kawasan konservasi satwa,” pungkasnya.

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: