Produksi Padi Biofortifikasi di Sultra Capai 3.825 Ton
Sulawesi Tenggara – Produksi padi biofortifikasi di Sulawesi Tenggara (Sultra) telah mencapai 3.825 ton. Program itu merupakan langkah strategis Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra dalam upaya penanganan stunting di daerah.
Melalui Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan (Distanak), Pemprov Sultra telah menyalurkan bantuan benih padi biofortifikasi untuk lahan seluas 1.500 hektare pada tahun 2024. Bantuan tersebut bersumber dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) tugas pembantuan (TP) provinsi untuk 1.000 hektare, yang tersebar di beberapa kabupaten.
Kepala Distanak Sultra, La Ode Muhammad Rusdin Jaya, merincikan kabupaten yang menerima bantuan tersebut, antara lain Kolaka 100 hektare, Buton 100 hektare, Konawe Selatan 100 hektare, Bombana 183 hektare, Kolaka Timur 200 hektare, serta Kota Kendari 317 hektare.
“Selain itu, terdapat bantuan APBN pusat untuk 500 hektare di Bombana,” katanya kepada Kendariinfo, Rabu (19/2/2025).
Proses penyaluran benih berlangsung sejak Mei hingga September 2024, dengan total lahan yang ditanami mencapai 1.500 hektare. Hingga saat ini, luas lahan yang telah dipanen mencapai 850 hektare, menghasilkan produksi sebesar 3.825 ton dengan rata-rata produktivitas 4,5 ton per hektare.
“Untuk tahun 2025, kami masih menunggu alokasi dari kementerian,” tambahnya.
Padi biofortifikasi sendiri mengandung berbagai zat gizi penting yang mendukung pertumbuhan, seperti zinc (Zn) serta mineral penting lainnya, termasuk besi (Fe). Keunggulan padi biofortifikasi meliputi kemampuannya untuk dikembangkan sebagai bahan makanan pokok yang lebih murah dan menguntungkan secara budidaya. Benih yang telah terfortifikasi hanya memerlukan pengadaan awal, selanjutnya benih dari hasil panen dapat dikembangkan lebih lanjut oleh petani.
“Selain mendukung ketahanan pangan, padi ini bermanfaat besar bagi masyarakat yang rawan gizi, memiliki produktivitas tinggi, serta ramah lingkungan,” tutupnya.
