Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Terkini

Projo Konawe Desak Polisi Dalami Motif Kematian Juliansyah

Projo Konawe Desak Polisi Dalami Motif Kematian Juliansyah
Ketua DPC Projo Konawe, Abiding Slamet. Foto: Istimewa.

Konawe – Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Pro Jokowi (Projo) Kabupaten Konawe, Abiding Slamet, meminta kepada pihak kepolisian agar serius bekerja dan mengolah tempat kejadian perkara (TKP) atas kematian Juliansyah, terkait kasus tabrak lari pada 2022 lalu di Kecamatan Pondidaha, Kabupaten Konawe.

Kasus kematian Juliansyah, dianggap masih menyisakan sejumlah kejanggalan. Juliansyah yang berusia 17 Tahun dan sedang duduk di bangku Kelas II SMA Pondidaha itu mengalami kematian dengan dalil korban tabrak lari. Namun hingga saat ini, pihak kepolisian diduga belum mengungkap motif kematian yang sebenarnya.

Abiding Slamet menduga kematian Juliansyah bukan korban tabrak lari, melainkan dugaan pembunuhan berencana. Pasalnya, pada beberapa bagian tubuh korban terdapat luka yang tidak wajar jika itu dinyatakan karena lakalantas. Bahkan, beberapa bagian tubuh korban mengalami memar yang diduga akibat pukulan.

“Serta bagian tubuh melepuh seperti terkena panas api, juga pada telapak kaki korban ada luka tusuk yang tembus ke kaki bagian atas,” ujarnya, Selasa (11/7/2023).

Lanjutnya, semestinya dari keterangan keluarga korban mengenai adanya perkelahian jauh hari sebelum kejadian dan permintaan berkelahi dari saksi di balai desa mesti dikembangkan kepolisian namun hal ini tidak dilakukan.

“Selanjutnya orang-orang yang ada di balai desa saat itu turut diambil keterangannya, yakni teman saksi dan juga orang-orang yang lain yang ada di balai desa,” tegas Abiding.

Baca Juga:  Lagi! Kecelakaan di Jalan Trans-Sulawesi, 1 Orang Tewas Dilindas Mobil

Lebih lanjut Abiding mengungkapkan, menurut keluarga korban bahwa kecelakaan terjadi di depan Puskesmas Pondidaha pada pukul 22.00 Wita. Namun pada pukul 01.40 Wita barulah korban dibawa ke puskesmas.

“Padahal pukul 22.00 Wita itu kan masih ramai dan depan puskesmas pasti banyak orang yang mondar-mandir. Pasti ada yang mendengar terjadinya lakalantas. Pertanyaan dari kami, mengapa nanti pukul 01.40 Wita baru korban dibawa ke puskemas,” bebernya.

Ia mengungkapkan jika korban meninggal akibat tabrak lari, maka baju korban setidaknya mengalami sobek dan kotor. Bahkan tubuh korban ada yang tergores.

“Mestinya jika hanya ada satu saksi yg melihat bahwa korban meninggal karena lakalantas dan untuk menguatkan keterangan saksi itu maka semestinya pihak kepolisian melakukan autopsi pada korban Juliansyah tetapi faktanya autopsi itu tidak dilakukan,” ungkapnya.

“Tetapi ini tidak, justru kondisi baju korban masih bersih tanpa ada yang kotor, dan badan korban pun tidak ada yang tergores. Lebih aneh lagi, sandal yang dipakai korban terletak rapi keduanya di pinggir jalan, jika benar lakalantas pastinya sendalnya ada di jalan dan tidak terletak rapi,” tambah Abiding.

Ia menjelaskan, menurut adik Juliansyah, sebelum kematian kakaknya, korban tersebut pernah berkelahi dengan salah satu saksi dan juga pernah menyampaikan ancaman pada adik Juliansyah agar meminta ia berhati-hati.

Menurut Abiding Slamet, keterangan saksi juga dinilai ada kejanggalan dari sejumlah kesaksian yang ia telah berikan. Pihaknya menemukan sejumlah benda yang diduga barang bukti berupa kayu yang terbalut dengan lakban berwarna biru serta ditemukan sejumlah tali yang berlumuran darah. Bahkan di lantai balai desa pun ditemukan lumuran darah.

Baca Juga:  Truk Berisi 6 Unit Motor Terbalik di Pinggir Jurang Kolut

Oleh karena itu, pihaknya akan terus mengawal dan mendukung penuh kepada LBH Himpunan Advokad Muda Indonesia (HAMI) Sultra untuk memproses kasus ini agar menjadi terang.

Penulis
Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten