Puluhan Anak-Anak di Kendari Saling Serang Pakai Sarung
Kendari – Puluhan anak-anak saling serang menggunakan sarung di depan kampus IAIN Kendari atau tepatnya di Jalan Qaimuddin, Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, Minggu (17/4/2022). Aksi penyerangan tersebut dilakukan usai salat subuh.
“Mereka lagi main perang sarung, hanya sepertinya sambil memukul pakai tangan toh jadinya begitumi,” kata salah seorang warga, Ahmad Yunizar kepada Kendariinfo.
Tampak puluhan menggunakan senjata sarung yang digulung menyerupai cambuk. Anak-anak itu berlari lalu saling serang satu sama lainnya.
Belum diketahui pasti penyebab aksi saling serang tersebut. Tak lama kemudian, kepolisian datang dan mereka lari terbirit-birit.
Sejarah Perang Sarung
Berdasarkan informasi yang dihimpun, perang sarung atau tarung sarung ini awalnya hanyalah sebuah candaan anak laki-laki yakni selepas salat dengan memukulkan sarung yang dilipat-lipat atau digulung kemudian dipukulkan kepada lawan main.
Dalam sejarahnya perang sarung bermula dari kebudayaan suku Bugis di Sulawesi Selatan. Suku Bugis ini memiliki keunikan tersendiri dalam adat dan budayanya. Dalam hal menyelesaikan masalah, adat suku Bugis yang dilakukan bernama Sigajang Laleng Lipa atau disebut tarung sarung.
Sigajang Laleng Lipa adalah salah satu ritual penting pada masyarakat Bugis dengan menyatukan dua pria di dalam sebuah sarung. Kedua pria tersebut kemudian akan saling bertarung dan adu kekuatan hingga keduanya sama-sama mati atau sama-sama hidup. Akan tetapi jarang terjadi dalam ritual ini pihak yang mati atau hidup sendirian.
Ritual ini mulai dilakukan pada masa kerajaan Bugis untuk menyelesaikan perseteruan dua keluarga. Jika ada keluarga yang terinjak harga dirinya maka pertarungan ini harus dilakukan untuk menyelesaikan perselisihan.
