Puluhan Mak-Mak di Kendari Tertipu Arisan Bodong, Begini Modus Pelaku saat Beraksi
Kendari – Puluhan mak-mak di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) tertipu arisan bodong. Modus pelaku saat beraksi dengan cara mendaftarkan nama-nama fiktif di salah satu grup sebagai umpan untuk meyakinkan para korban.
Arisan bodong ini dibentuk oleh seorang ibu bernama Dian Azizah Lukman (terlapor) pada Februari 2022 lalu. Mak-mak yang tergabung sebanyak 20 orang, salah satunya adalah Qusnul, warga Kelurahan Wuawua, Kecamatan Wuawua, Kota Kendari.
Saat dihubungi Kendariinfo, ibu berumur 54 tahun itu menceritakan awal mula ia mengenal terlapor Dian Azizah Lukman hingga terjebak dalam arisan bodong.
Di awal tahun 2022, ia sering memantau media sosial (medsos) Facebook (FB). Saat itu, ia melihat salah satu akun FB atas nama Prity Buah Ranomeeto. Akun FB tersebut kerap kali menawarkan barang dagangan di medsos.
Qusnul tertarik, hingga ia dan akun FB Prity Buah Ranomeeto yang diduga milik terlapor Dian Azizah Lukman menjalin komunikasi, bahkan saling tukar nomor kontak. Sesekali, Qusnul memesan buah-buahan, pesanannya lancar dan diberikan sesuai apa yang ia inginkan.
Pada Februari 2022, terlapor Dian Azizah Lukman menawarkan Qusnul untuk mengikuti arisan dengan target peserta 20 orang. Meskipun belum pernah bertemu langsung, Qusnul setuju sebab telah mempercayai Dian sebagai rekan dalam menjalankan karier.
Ketika 20 orang telah bergabung, seluruh anggota arisan menyepakati iuran bulanan Rp500 ribu dan akan diundi setiap tanggal 15. Total keseluruhan sebesar Rp10 juta.
“Kita hanya modal kepercayaan. Karena sering kita komunikasi,” ujarnya, Selasa (3/1/2023).
Masih di bulan Februari 2022, tepatnya tanggal 15, yang mendapatkan arisan pertama tanpa undian adalah Dian selaku orang yang mencanangkan agenda arisan itu.
Di bulan-bulan berikutnya atau 15 Maret hingga 15 Oktober 2022, terlapor Dian mengundi arisan itu secara acak menggunakan salah satu aplikasi yang dapat dipantau langsung oleh seluruh peserta di grup arisan (peserta tidak perlu bertemu) saat undian berlangsung. Walhasil, nama yang beruntung adalah peserta arisan dari Kota Kendari, selanjutnya disusul beberapa nama-nama fiktif lainnya yang tidak diketahui identitasnya.
“Jadi, dari 20 nama itu, yang asli itu hanya 13 orang saja, semua dari Kota Kendari. Kalau 7 orang yang ada di dalam grup itu, ternyata nama fiktif yang sengaja dibuat oleh terlapor Dian untuk meyakinkan kami agar mau mengikuti arisan,” kesalnya.
Qusnul menyebut, arisan bodong ini terungkap saat seorang ibu yang namanya menang undian arisan mengeluhkan uang yang tidak pernah ditransferkan utuh oleh terlapor Dian. Artinya, nama yang jatuh arisan seharusnya mendapatkan Rp10 juta tetapi hanya diberikan Rp5 juta oleh Dian.
Peserta arisan itu mulai bertanya-tanya. Saat salah seorang ibu mengeluh dan menagih di dalam grup, terlapor Dian yang mengelola arisan itu tiba-tiba hilang kontak. Nomornya tidak aktif dan telah melarikan diri dari tempat tinggalnya yang ada di Kecamatan Ranomeeto, Konawe Selatan (Konsel).
Atas kejadian itu, Qusnul dan ibu-ibu lainnya merasa telah ditipu. Mereka berusaha mencari keberadaan terlapor Dian namun hasilnya nihil. Belakangan terungkap, terlapor sedang dicari-cari oleh ibu-ibu lainnya yang juga pernah ikut arisan bersama.
“Banyak korbannya paleng ini. Tidak hanya sama kami, banyak arisan yang dia buatkan grup, semua mengeluh karena tidak ada yang jelas,” paparnya.
Atas kejadian itu, Qusnul memilih melaporkan Dian di Polsek Ranomeeto pada 27 Desember 2022 atas dugaan kasus penipuan dan penggelapan.
Secara terpisah, Kapolsek Ranomeeto, AKP Dedy Sutrisno mengatakan, pihaknya telah mendapatkan laporan itu dan masih menyelidiki kasus tersebut.
“Nanti kami tindaklanjuti, perkembangan kasus nanti saya infokan,” tutupnya.
