Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Muna

Puncak Wakila, dari Bukit Sunyi Jadi Ruang Hidup Baru Desa Kondongia, Muna

2
0
Panorama objek wisata Puncak Wakila di Desa Kondongia, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Foto: Istimewa.

Muna – Lanskap karst yang selama ini identik dengan kesunyian kini mulai membentuk cerita baru di Desa Kondongia, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra). Sebuah kawasan perbukitan di sisi selatan desa bertransformasi menjadi ruang publik yang menggerakkan ekonomi, budaya, dan interaksi sosial warga, terutama menjelang senja.

Kawasan tersebut dikenal sebagai Puncak Wakila. Lokasinya relatif dekat dari pusat Kota Raha, hanya sekitar 15 menit perjalanan. Perubahan wajah kawasan ini tidak terjadi secara alami, melainkan lahir dari keputusan strategis pemerintah desa untuk memaksimalkan potensi lokal yang sebelumnya terabaikan.

Kepala Desa Kondongia, Laode Rahmapo, menyebut Puncak Wakila kini diposisikan sebagai titik temu antara alam, masyarakat, dan aktivitas ekonomi desa. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjadikan festival sebagai instrumen promosi sekaligus penggerak partisipasi warga.

“Festival Wakila kami rancang sebagai pintu masuk untuk mengenalkan Puncak Wakila secara lebih luas. Ini bukan sekadar acara hiburan, tetapi bagian dari upaya membangun desa melalui pariwisata yang tetap menjaga lingkungan,” kata Laode Rahmapo.

Menurutnya, pendekatan festival dinilai mampu menarik perhatian publik sekaligus membuka ruang keterlibatan masyarakat secara langsung. Warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat sebagai pelaku, mulai dari penyedia kuliner, produk lokal, hingga pengisi kegiatan seni dan budaya.

Aktivitas tersebut berdampak pada tumbuhnya usaha kecil dan sektor kreatif di tingkat desa. Puncak Wakila menjadi panggung terbuka bagi produk UMKM, kreativitas anak muda, serta ruang bertemunya jejaring ekonomi antarwarga.

Lebih jauh, Pemerintah Desa Kondongia menyiapkan arah pengembangan Wakila sebagai kawasan agro wisata. Rahmapo menjelaskan, desa memiliki modal kuat berupa lahan pertanian produktif, bentang alam yang masih alami, serta budaya agraris yang telah mengakar.

“Kami melihat Wakila tidak hanya soal pemandangan, tetapi juga potensi edukasi pertanian. Lingkungan, aktivitas bertani, dan kehidupan desa bisa menjadi satu kesatuan yang memberi pengalaman berbeda bagi pengunjung,” ujarnya.

Dengan konsep tersebut, dia menyebut Puncak Wakila diproyeksikan menjadi simbol perubahan Desa Kondongia, dari wilayah pinggiran menjadi ruang hidup yang menghubungkan alam, ekonomi lokal, dan identitas budaya masyarakat Muna.

Wakila Festival 2025 Resmi Dibuka, Jadi Panggung Budaya dan Agrowisata Kondongia

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: