Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Konawe

Raim Laode hingga Rully Sarjana Terlibat dalam Film Komedi Horor di Sultra

0
0
Sutradara asal Sultra, Irham Acho Bachtiar (tengah kaus putih) bersama para cast film komedi horor urban legend Kecamatan Anggaberi, Konawe. Foto: Istimewa.

Konawe – Sejumlah selebgram dan kreator konten asal Kota Kendari dan Makassar terlibat dalam produksi film layar lebar bergenre komedi horor yang mengambil latar tempat Sulawesi Tenggara (Sultra). Film ini disutradarai sineas berdarah Konawe, Irham Acho Bachtiar, dan menghadirkan bintang tamu spesial Raim Laode hingga kreator konten Rully Sarjana.

Acho mengungkapkan daftar kreator konten yang dilibatkan. Mereka antara lain Rully Sarjana, Ater, Wa Ode Kartini, Alkes Kelor, Umar, Wawan de Cost, Boim Saranani, Ince Syahrul Anam, Bunggeke, Herman Bubuta, Vien Saryanti, Brocil, hingga Alli Murdani.

“Rully Sarjana, Ater, Wa Ode Kartini, Alkes Kelor, Umar, Wawan de Cost, Boim Saranani, Ince Syahrul Anam, Bunggeke, Herman Bubuta, Vien Saryanti, Brocil, Alli Murdani, ini selebgram dan kreator konten dari Kendari dan Makassar,” ujar Acho kepada Kendariinfo, Selasa (24/2/2026).

Selain para selebgram, jajaran pemain film ini juga diisi oleh Alam Konawe, Rasya AT, Karina Icha, dan Rita Harmasan. Raim Laode dipastikan tidak hanya tampil sekadar cameo.

“Iya, scene khusus dibuat. Semua bintang-bintang tamu punya scene spesial dibikinkan,” jelasnya.

Film ini mengusung genre komedi horor dengan porsi komedi yang lebih dominan, sementara unsur horor menjadi latar urban legend yang diangkat dari Kecamatan Anggaberi, Kabupaten Konawe.

“Komedi horor karena lebih berat komedinya, horor hanya jadi latar urban legendnya saja. Untuk detail filmnya belum bisa saya jelaskan secara spesifik,” lanjutnya.

Proses syuting berlangsung selama 18 hari, terhitung sejak 5 Februari hingga 22 Februari 2026. Sekitar 90 persen pengambilan gambar dilakukan di Kabupaten Konawe, khususnya di wilayah Kecamatan Anggaberi yang disebut sebagai tanah leluhur keluarga Acho. Sisanya dilakukan di Kota Kendari dengan menampilkan sejumlah landmark dan objek wisata seperti Toronipa dan Pulau Bokori. Kawasan Eks MTQ Kendari hanya digunakan dalam satu adegan sebagai simbol kota.

Rumah Jabatan (rujab) Bupati Konawe yang saat ini masih dalam tahap pembangunan juga dijadikan lokasi syuting karena menyesuaikan kebutuhan cerita.

“Pemeran utamanya jadi kuli bangunan, jadi kita mencari bangunan yang sedang dikerjakan. Kebetulan rujab sedang dibangun dan itu cocok jadi lokasinya, bukan karena rujabnya,” ungkapnya.

Meski mengangkat tema horor, Acho memastikan tidak ada kejadian mistis selama proses syuting berlangsung.

“Tidak ada satupun hal mistis yang terjadi. Ini pertama kalinya selama saya syuting film dengan adegan horor tanpa ada gangguan apapun sama sekali. Ini karena kami syuting di atas tanah warisan keluarga leluhur sendiri, makanya tidak ada gangguan gaib apapun,” tuturnya.

Ia menyebut adegan di hutan lebat hingga malam hari tetap berjalan aman meski menggunakan riasan menyeramkan dan adegan teriakan.

“Awalnya adegan hutannya mau diambil di wilayah lain tetapi saya putuskan untuk diambil di tanah keluarga kami saja demi keamanan dan ternyata benar syutingnya jadi sangat nyaman, serasa di rumah sendiri. Tak ada ketakutan sama sekali dari kru dan pemain selama syuting di hutan itu. Sebelumnya hanya pamitan sama leluhur kami yang punya tanah ini, cucumu mau syuting, begitu saja,” bebernya.

Film ini diproduksi oleh rumah produksi baru milik Acho, Sultra Sinema Investama, yang berkolaborasi dengan Rumah Semut Film. Sebelumnya, kedua rumah produksi ini juga menggarap film berlatar Sultra seperti Molulo dan Mosonggi. Proyek ini sepenuhnya dibiayai oleh pihak rumah produksi tanpa campur tangan pemerintah.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra dan Pemerintah Daerah (Pemda) Konawe disebut memberikan dukungan penuh selama proses produksi.

“Meskipun tidak ikut membiayai film ini, Pemprov Sultra dan Pemda Konawe sangat mendukung dan mensupport pelaksanaan syuting sejak awal sampai akhir dengan melihat langsung proses syuting di lapangan hingga membantu kelancaran fasilitas selama proses syuting berlangsung, terutama saat di Pulau Bokori,” kata Acho.

Acho yang merupakan lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 2000 itu menegaskan film ini dipersiapkan untuk tayang di bioskop nasional. Ia menyebut proyek tersebut sebagai bentuk komitmennya mengangkat budaya dan cerita lokal Sultra ke panggung yang lebih luas.

“Karena Konawe adalah kampung kelahiran mama saya, kali ini saya ingin mengangkat salah satu urban legend paling top di Konawe yang sering diceritakan mama saya sejak saya kecil di Anggaberi. Ini juga bukti komitmen saya untuk terus mengangkat budaya Sultra ke mata dunia. Intinya saya tidak lupa dengan tanah leluhur saya,” pungkasnya.

Irham Acho Bachtiar Kembali Garap Film Berlatar Sultra, Angkat Urban Legend Anggaberi Konawe

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: