Rektor Siber Muhammadiyah di UM Kendari, Singgung Peran Manusia yang Tergeser AI
Kendari – Rektor Universitas Siber Muhammadiyah, Bambang Riyanta, menyebut peran manusia kian tergeser oleh kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Hal itu ia sampaikan saat memberikan kuliah umum di Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (11/2/2026).
Kuliah umum yang dihadiri Rektor UM Kendari, Muhammad Nurdin, dosen, serta para mahasiswa dari berbagai fakultas itu mengusung tema “Peradaban AI: Dunia Tak Lagi Sama.” Dalam pemaparannya, Bambang menilai perkembangan AI telah memasuki fase otomasi cerdas yang secara signifikan mengurangi keterlibatan manusia dalam berbagai sektor.
“Nah, jadi ketika ChatGPT tiga setengah pertama di launching, Stanford itu langsung berpikir, waduh ini peran manusia betul-betul sudah jauh berkurang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejak revolusi industri 1.0 hingga 4.0, peran manusia terus mengalami penyusutan. Jika sebelumnya kontribusi manusia berada di kisaran 9 dari skala 10, maka di era otomasi cerdas saat ini peran tersebut disebutnya tinggal nol sampai satu.
“Kita rela atau tidak jika begitu. Mungkin di sini belum terasa, karena kehidupan belum sepenuhnya kompatibel dengan perkembangan teknologi. Tetapi kalau di barat sana, itu sudah sangat terasa,” jelasnya.
Bambang juga menyinggung kekhawatiran di kalangan mahasiswa luar negeri terhadap masa depan pekerjaan yang dinilai berpotensi digantikan AI. Ia mencontohkan fenomena mahasiswa di Harvard yang memilih mengundurkan diri karena mempertimbangkan efektivitas studi empat tahun di tengah percepatan teknologi.
Selain itu, ia mengutip peringatan Geoffrey Hinton, pengembang AI Google sekaligus peraih Nobel, yang mengakui manfaat AI namun tetap mengingatkan potensi bahayanya.
“Intinya, ini bahaya. Ada manfaatnya banyak, tetapi juga hati-hati dengan bahayanya,” kata Bambang.
Ia juga merujuk pada pandangan Yuval Noah Harari yang menyebut AI bukan lagi sekadar alat (tools), melainkan agent yang mampu mengambil keputusan sendiri.
“AI itu bukan tools. AI itu agen. Dia bisa punya ide sendiri, mengambil keputusan sendiri,” ungkapnya.
Menurut Bambang, tren AI pada 2026 akan mengarah pada agentic AI, yakni sistem yang mampu bekerja secara mandiri dan mengelola berbagai tugas kompleks. Ia bahkan memprediksi akan muncul perusahaan bernilai miliaran dolar yang dikelola satu orang dengan dukungan AI.
Meski demikian, ia menegaskan AI tetap memiliki batas, terutama dalam aspek moral dan nilai kemanusiaan.
“AI di masa depan dapat menyepelehkan manusia secara fungsional, tetapi tidak dapat menjadi manusia secara utuh fisik dan moral,” tegasnya.
Ia menyarankan perguruan tinggi, termasuk UM Kendari, untuk tidak hanya fokus pada kemampuan kognitif yang mudah tergantikan teknologi, tetapi memperkuat aspek afektif, karakter, dan nilai.
“Psikomotor itu bisa, tetapi terbatas. Yang sulit itu yang afektif. Moral, nilai-nilai, dan seterusnya. Kita mestinya fokus ke situ,” tandasnya.
