Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Baubau

Ritual Santiago di Baubau Digelar Lebih Awal, Kondisi Batu Nisan Sultan Jadi Sorotan

0
0
Ritual adat Santiago yang digelar di kawasan Benteng Keraton Buton, Kota Baubau. Foto: Dok. Pemkot Baubau. (12/10/2026).

Baubau – Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, ritual adat Santiago di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), kini digelar lebih awal, tepatnya Senin (12/10/2026). Perhelatan tersebut berlangsung di Kamali Kara, kawasan Benteng Keraton Buton.

Tradisi penghormatan kepada para leluhur yang diisi dengan berziarah ke makam para Sultan Buton ini menjadi pembuka semarak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-485 Kota Baubau sekaligus perayaan 25 tahun sebagai daerah otonom.

Dalam pelaksanaannya, perhatian tertuju pada kondisi fisik nisan makam sultan yang tampak memudar dan terhapus. Menanggapi hal itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Baubau, La Ode Darus Salam, menyatakan akan melaporkannya kepada Wali Kota Baubau, Yusran Fahim, agar dapat memprioritaskan pembenahan.

“Terkait tulisan pada nisan para sultan yang sudah mulai pudar, hal ini akan segera kami laporkan kepada Wali Kota agar Dinas Pariwisata dapat memprioritaskan pembenahan, khususnya pengadaan papan nama informasi makam para sultan,” ujarnya melalui keterangan resmi, Selasa (13/10).

Pelaksanaan ritual Santiago sendiri biasanya berlangsung pada 15 atau 16 Oktober. La Ode Darus Salam menyebut pergeseran perhelatan itu dimaksudkan menjadi momentum permohonan doa dan restu kepada leluhur melalui ziarah makam sebelum semarak HUT Kota Baubau dimulai.

“Ritual Santiago ini kita laksanakan setiap menjelang HUT Kota Baubau. Tahun ini kita majukan lebih awal sebagai penanda bahwa sebelum seluruh rangkaian kegiatan dimulai, kita terlebih dahulu memohon doa dan berpamitan kepada para sultan melalui ziarah makam, agar seluruh proses acara berjalan aman dan lancar,” jelasnya.

Ziarah yang dilakukan terfokus pada sejumlah makam sultan di sekitar kawasan Masjid Agung Keraton Buton, di antaranya Sultan Murhum, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi (Oputa Yi Koo), serta Sultan Dayanu Ikhsanuddin.

Meski ziarah yang dilakukan belum menjangkau seluruh makam sultan karena waktu yang terbatas, tetapi substansi penghormatan dan doa tetap tertuju pada seluruh pendahulu Kesultanan Buton.

Melalui kesempatan yang sama, Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau turut mengapresiasi peran kalangan remaja dalam regenerasi pelestarian adat sebagai penari tradisi Galangi yang mulanya lebih banyak diperankan oleh kalangan tua.

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: