Teknologi IoT UM Kendari Masuk Desa di Konawe, Budi Daya Ikan Bisa Terpantau HP
Konawe – Universitas Muhammadiyah (UM) Kendari memperkenalkan teknologi Internet of Things (IoT) untuk meningkatkan produksi ikan air tawar di Desa Linonggasai, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).
UM Kendari menerjunkan 25 mahasiswa untuk mendampingi masyarakat mengembangkan budi daya ikan menggunakan sistem smart bioflok plus yang dapat dipantau melalui telepon seluler dalam program bernama AKSARA.
Program pengabdian kepada masyarakat tersebut berlangsung sejak 4 November hingga 4 Desember 2026. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa akan mendampingi warga mengembangkan budi daya ikan nila dan lele dengan memanfaatkan sejumlah perangkat otomatis berbasis IoT.
Dosen pelaksana program, Ary Tamtama, mengatakan AKSARA merupakan program hibah pengabdian kepada masyarakat bagi dosen yang melibatkan mahasiswa sebagai pelaksana kegiatan.
“Tujuannya meningkatkan produksi ikan air tawar bagi masyarakat di Kabupaten Konawe melalui penerapan smart bioflok plus,” kata Ary kepada Kendariinfo, Jumat (6/11/2026).
Ia menjelaskan, UM Kendari memperkenalkan lima inovasi teknologi dalam program tersebut. Salah satunya sistem pemantauan kualitas air kolam ikan nila menggunakan sensor IoT yang memungkinkan pembudi daya mengamati kondisi air secara waktu nyata.
Selain itu, terdapat teknologi pemberian pakan otomatis yang dapat dikendalikan melalui perangkat android. Tim juga memasang sensor pintar untuk mendeteksi keberadaan reptil atau hewan pengganggu di sekitar kolam.
Dua inovasi lainnya mencakup teknologi penghitung benih ikan berbasis IoT dan sistem budi daya cacing sutra dengan sirkulasi air yang dikendalikan secara otomatis.
“Kami juga menghadirkan teknologi budidaya cacing sutra melalui sirkulasi air terkontrol oleh IoT. Teknologi ini menjadi yang pertama di Sulawesi Tenggara,” jelasnya.
Selain memperkenalkan perangkat, 25 mahasiswa UM Kendari juga melakukan pemasangan alat dan pendampingan teknis kepada pembudi daya. Kegiatan ini diarahkan agar masyarakat mampu mengoperasikan teknologi tersebut secara mandiri.
