Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Crime

Video Perintah Polisi Borgol Warga Penolak Tambang Viral, Pimpinan PT GKP Minta Maaf

Video Perintah Polisi Borgol Warga Penolak Tambang Viral, Pimpinan PT GKP Minta Maaf
Pimpinan PT GKP, Bambang saat diwawancarai awak media. Foto: Ferito Julyadi/Kendariinfo. (8/3/2022).

Kendari – Video berdurasi 50 detik yang memperlihatkan Pimpinan PT Gema Kreasi Perdana (GKP), Bambang, yang memerintahkan aparat kepolisian untuk menangkap dan memborgol warga yang menghalang-halangi kerja perusahaannya menjadi viral dan perbincangan hangat beberapa waktu lalu.

Pasalnya, tindakan itu dinilai sebagai bentuk intimidasi terhadap warga Desa Sukarela Jaya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) yang menolak aktivitas tambang.

Menanggapi hal itu, Bambang yang ditemui awak media di sela-sela waktu istirahat rapat dengar pendapat (RDP) di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sultra, menyampaikan permohonan maaf.

Video berdurasi 50 detik yang memperlihatkan Pimpinan PT Gema Kreasi Perdana (GKP), Bambang, yang memerintahkan aparat kepolisian untuk menangkap dan memborgol warga.
Video berdurasi 50 detik yang memperlihatkan Pimpinan PT Gema Kreasi Perdana (GKP), Bambang, yang memerintahkan aparat kepolisian untuk menangkap dan memborgol warga. Foto: Tangkapan layar.

“Saya mewakili manajemen PT GKP meminta maaf atas perkataan saya beberapa waktu lalu yang kiranya menyinggung khalayak ramai,” ucapnya, Selasa (8/3/2022).

Saat kejadian itu, dia adalah orang yang bertanggung jawab saat melakukan dialog kepada masyarakat. Dirinya juga berdalih bahwa video yang viral itu hanyalah penggalan akhir dari diskusi yang pihaknya lakukan.

“Video itu penggalan akhir yang hanya diperlihatkan dan viral di media sosial (medsos). Tapi tidak memperlihatkan awalan apa yang kita sampaikan. Awalnya kami itu melakukan dialog yang sangat persuasif kepada wakil-wakil dari masyarakat,” jelasnya.

Sambungnya, ketika sedang melakukan dialog damai muncul seorang yang terlihat memancing keributan yang ia nilai kurang baik.

“Saat kami mengajak warga untuk dialog damai, muncul satu orang ini yang memancing, dan kelihatannya bukan pemilik lahan dan dia melakukan hal-hal yang saya anggap kurang baik. Lalu munculah statement saya yang sifatnya mengingatkan sampai mengeluarkan ada kata borgol dan ditangkap. Saya minta maaf untuk itu,” sambungnya.

Baca Juga:  HUT ke-61 Sultra di Kolaka Mengusung Tema Harmoni Sulawesi Tenggara 2025

Dia mengungkapkan, kata “borgol dan tangkap” yang ia keluarkan merupakan spontanitas diucapkan karena lelah ketika berhadapan dengan warga yang menolak aktivitas tambang.

“Hal itu spontanitas, karena lelah, akumulasi capek juga di lapangan. Kami juga sudah menunggu seluruh rekan yang ada di lapangan untuk dialog namun tidak ada hasil. Terpaksa kami menyampaikan dengan kata-kata yang tegas. Jika ada pihak yang merasa dirugikan, atas nama pribadi dan perusahaan, saya minta maaf yang sebesar-besarnya,” ungkapnya.

Bambang juga menepis kabar bahwa pihaknya memerintahkan aparat kepolisian untuk memburu warga yang menolak aktivitas perusahaannya.

“Itu keliru, bahkan tidak ada masyarakat yang melawan. Ada sekitar 500 masyarakat yang bersama-sama dengan kita ingin agar investasi ini berjalan di Konkep. Mereka menginginkan, juga mengawal sekaligus menjadi media untuk mengomunikasikan kepada kelompok kecil yang belum sepaham,” tegasnya.

Sebelumnya, kehadiran PT GKP di Pulau Wawonii menuai penolakan dari warga setempat. Warga melakukan aksi pengadangan aktivitas alat berat milik perusahaan, Selasa (1/3/2022) lalu.

Editor Kata
Tetap terhubung dengan kami:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan Konten