Kendariinfo

Media Milenial Sultra

URL Berhasil Disalin
Muna

Warga Wapuale, Muna: 79 Tahun Indonesia Merdeka, Jalan Kami Tak Pernah Diaspal

6
0
Jalan di Desa Wapuale, Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), tergenang air. Foto: Istimewa.

Muna – Desa Wapuale, Kecamatan Parigi, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), belum juga menikmati akses jalan memadai meski Indonesia telah 79 tahun merdeka. Hingga kini, ruas penghubung utama desa tak pernah tersentuh aspal. Kondisi itu memicu kekecewaan warga yang merasa diabaikan pemerintah daerah.

Warga Wapuale, Fahar Purnama, menyampaikan kekecewaan atas janji pembangunan yang tak kunjung ditepati. Ia menyebut jalan itu sudah puluhan tahun hanya berupa pengerasan seadanya dan belum pernah mengalami peningkatan berarti, meski kepala daerah silih berganti.

“Sudah 79 tahun Indonesia merdeka hingga sekarang, belum pernah disentuh aspal itu jalan,” ujar Fahar kepada Kendariinfo, Kamis (10/7/2025).

Ia mengungkapkan wacana pengaspalan jalan di Wapuale sudah lama digaungkan, termasuk saat Rusman Emba menjabat bupati selama dua periode, didampingi Bachrun Labuta sebagai wakil bupati. Namun, meski desa mereka menjadi salah satu lumbung suara terbesar bagi pasangan tersebut, janji tak pernah dipenuhi.

“Dua periode masa pemerintahan Rusman Emba dan waktu itu Bachrun Labuta masih wakil bupati, hingga sekarang dia menjabat sebagai bupati, kami hanya dijanjikan. Padahal di Wapuale, keduanya menang mutlak,” katanya.

Fahar menegaskan warga tak menuntut banyak. Mereka hanya ingin jalan desa diaspal agar aktivitas sehari-hari bisa berjalan lebih baik, terutama saat musim hujan.

“Harapanku cuma satu, semoga pemerintah segera mengaspal jalan ini. Yang kami minta dari pemerintah daerah, tolong perhatikan jalanan kami di Desa Wapuale,” ungkapnya.

Ia pun menggambarkan betapa sulitnya kondisi jalan saat musim hujan dan kemarau. Di musim hujan, jalan berubah menjadi lumpur. Sementara saat kemarau, warga harus menghadapi debu tebal setiap kali kendaraan melintas.

“Kalau musim hujan, jalan bisa dibilang kayak kita mendulang emas penuh lumpur. Kalau kemarau, kami mandi salju debu,” pungkasnya.

Bagikan berita ini:
Tetap terhubung dengan kami: